Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal, meyakini ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal akan terjadi dalam tiga bulan ke depan.
Keyakinan tersebut merujuk pada penelitian Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) yang mengungkapkan 65 persen perusahaan tidak akan merekrut karyawan baru dalam waktu dekat, serta 50 persen perusahaan tidak akan melakukan ekspansi dalam lima tahun ke depan.
“Itu menunjukkan tanda-tanda PHK akan terjadi tiga bulan ke depan,” kata Said dalam konferensi pers virtual, dikutip Selasa (21/4).
Menurutnya, kenaikan harga bahan baku dan bahan bakar minyak (BBM) industri menekan biaya produksi, sehingga perusahaan berencana mengurangi jumlah karyawan. Kondisi ini terutama berdampak pada pekerja kontrak.
“Kalau perusahaan tidak merekrut, berarti hanya mengandalkan pekerja lama. Itu kan berarti karyawan kontrak dipecat,” ujarnya.
Said menambahkan, perekrutan baru hanya mungkin terjadi di sektor industri berbasis teknologi tinggi seperti IT dan telekomunikasi yang tidak bergantung pada bahan baku impor.
“Industri-industri high-tech seperti industri IT, telekomunikasi mungkin dia akan melakukan perekrutan karyawan baru dalam jumlah yang terbatas,” tutur Said.
Kemudian terkait 50 perusahaan tidak akan ekspansi menunjukkan pelaku usaha memilih menahan modal mereka. Investor cenderung tidak akan mengembangkan bisnisnya karena dampak dari perang di Asia Barat yang mengakibatkan lonjakan harga bahan baku impor dan BBN industri.
“Investor itu tidak akan melakukan pengembangan karena apa? Faktor perang,” ucap Said.
Said mengatakan pihaknya saat ini telah menerima informasi bahwa terdapat potensi PHK 9.000 pekerja di 10 perusahaan, khususnya di sektor garmen dan plastik. Informasi tersebut bersumber dari anggota serikat buruh yang merupakan hasil diskusi dengan pihak manajemen perusahaan.
“Saya belum bisa menyebut nama perusahaannya karena teman-teman di tingkat pabrik meminta jangan disebut dulu karena kan belum terjadi PHK,” ujar Said.
“Ini akan terlihat di tiga bulan ke depan,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mempertanyakan dasar data dan proyeksi yang digunakan.
Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan jaminan Sosial Tenaga Kerja Kemenaker Indah Anggoro Putri, mengatakan seharusnya terdapat bukti dan proyeksi yang jelas jika bicara ancaman PHK dalam 2–3 bulan ke depan.
Baca Juga: Ancaman PHK 3 Bulan Lagi, Ribuan Buruh di Jawa Terancam
Baca Juga: Meta Berencana PHK 8.000 Karyawan Akibat Masifnya Penggunaan AI
“Itu mau PHK itu datanya dari mana? Hasil proyeksinya dari mana? Karena kalau kita bicara 2-3 bulan lagi akan terjadi maka mana datanya? Proyeksinya mana?” ujar Indah di DPR RI, Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Kemenaker menyatakan telah berdialog dengan mitra dan membuka kanal pengaduan sebagai langkah mitigasi dampak perang di Asia Barat yang memicu lonjakan harga bahan baku impor dan energi.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Advertisement