Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Di tengah ketidakpastian global akibat perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS), ribuan buruh di wilayah Jawa terancam pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam kurun waktu tiga bulan ke depan.
Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Partai Buruh Said Iqbal mengaku mendapatkan informasi tersebut dari para buruh. Potensi pengurangan tenaga kerja ini merupakan respons atas dampak konflik Timur Tengah.
"Jadi, berdasarkan laporan dari anggota KSPI di tiket pabrik ya, kita kan punya anggota di pabrik, bahwa mereka sudah mulai diajak ngomong lah, belum melakukan PHK baru diajak ngomong, kalau perang tetap berlanjut, maka tiga bulan ke depan ini pasti ada potensi PHK," kata Said, dikutip Jumat (17/4).
Ia menyebut terdapat 10 perusahaan yang memberi sinyal akan melakukan PHK, dengan jumlah buruh yang terancam mencapai sekitar 9.000 orang. Perusahaan tersebut tersebar di Jawa Barat, Jawa Timur, sebagian di Banten, dan Jawa Tengah.
"Ada 10 perusahaan di daerah Jawa Barat, Jawa Timur, sebagian kecil di Banten dan Jawa Tengah, tapi memang baru laporan. Nah, itu melibatkan hampir, hampir kurang lebih yang 10 perusahaan ini saja ya, kan kita nggak tahu di luar ini. Itu hampir kurang lebih mendekati 9 ribuan orang," terangnya.
Potensi PHK paling besar terjadi di sektor industri padat karya seperti tekstil dan garmen. Industri ini sangat bergantung pada bahan baku impor, seperti kapas dari Australia, Brasil, dan Amerika Serikat, yang kini terancam terganggu pasokannya serta mengalami kenaikan harga.
Baca Juga: Menaker Siapkan Kebijakan Baru Antisipasi Ancaman PHK Menjelang Mei Day
Baca Juga: Pemerintah Beri Kabar Gembira Bagi PPPK di Tengah Isu PHK Masal
Selain itu, industri otomotif dan elektronik juga terdampak akibat kenaikan harga BBM industri yang tidak disubsidi. Industri berbasis petrokimia, seperti plastik, ikut tertekan karena bahan bakunya berbasis impor dan dibayar dalam dolar AS.
"Kan elektronik banyak juga yang bahan dasarnya plastik. Misal contoh frame, frame-nya itu kan molding, molding-nya itu kan dari plastik. Rata-rata kalau bahan bakunya yang ada plastik, kemungkinan potensi efisiensi penekanan labor cost buruk, itu pasti akan ada efisiensi dalam bentuk pengurangan karyawan," tandasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Advertisement