Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Pakar sebut Letak Kesalahan Trump Saat Serang Iran: 'Strateginya Disamakan dengan Venezuela, Padahal Berbeda'

Pakar sebut Letak Kesalahan Trump Saat Serang Iran: 'Strateginya Disamakan dengan Venezuela, Padahal Berbeda' Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Situasi geopolitik masih memanas di Selat Hormuz, beberapa pakar menyebut di kawasan perairan strategis itu tidak akan pernah kembali ke kondisi semula (status quo ante).

Sementara, perubahan tata ruang geopolitik ini diyakini akan semakin memicu kemarahan dan frustrasi Amerika Serikat (AS).

Pakar kebijakan luar negeri Iran Abas Aslani, memaparkan bahwa setelah berminggu-minggu menghadapi konflik dan agresi dari AS dan Israel, Teheran sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelemahan atau niat untuk menyerah.

Saat ini, fokus utama kekuatan Barat adalah berupaya membuka kembali jalur Selat Hormuz. Namun, Aslani menilai bahwa peralihan target AS dan Israel yang kini menyasar infrastruktur sipil Iran justru membuktikan kegagalan mereka dalam mencapai tujuan militer dan strategis.

"AS dan Israel kini menyasar infrastruktur energi, ilmiah, medis, dan industri. Ini mengindikasikan bahwa mereka belum mampu mencapai target militer dan strategis utama mereka dalam perang ini," ungkap Aslani dikutip dari Xinhua baru-baru ini.

Aslani menuding bahwa serangan sistematis terhadap fasilitas publik tersebut sengaja dirancang untuk membebankan biaya kerusakan yang masif kepada masyarakat, menekan mental warga, dan melumpuhkan sistem tata kelola pemerintahan Iran.

Ia dengan tegas menyebut serangan AS-Israel tersebut sebagai bentuk "kejahatan perang dan pelanggaran hukum internasional."

"Mereka bahkan menyerang fasilitas nuklir damai Iran, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bushehr yang sedang aktif. Ini bisa memicu bencana dan konsekuensi serius bagi kawasan jika terjadi kerusakan fatal," peringatnya.

Lebih lanjut, Aslani menyoroti ketangguhan militer Iran yang tidak luntur meski digempur habis-habisan.

Ia mengingatkan bahwa niat awal kekuatan Barat adalah mengubah tatanan politik Iran sekaligus menghancurkan kapasitas militernya.

Namun, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya. "Kita melihat bahwa baru-baru ini Iran sukses menargetkan beberapa jet tempur Amerika dan masih sangat mampu merespons serangan. Kemampuan militer Iran masih solid," jelasnya.

Menurut Aslani, fakta ini membuktikan bahwa kalkulasi intelijen AS sebelum melancarkan agresi tersebut sangat keliru. AS dinilai mendekati konflik Iran dengan mindset dan model pendekatan seperti menangani krisis di Venezuela, padahal realitas di lapangan sangat berbeda.

Konflik yang berkepanjangan ini diyakini tidak hanya akan memicu krisis pada pasar energi global dan menguras sumber daya militer AS, tetapi juga akan meruntuhkan citra serta kredibilitas Washington di mata dunia internasional dalam jangka panjang.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat

Tag Terkait:

Advertisement