OJK Minta Multifinance Manfaatkan Krisis BBM untuk Genjot Pembiayaan EV
Kredit Foto: Ist
Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan bahan bakar minyak (BBM) dinilai membuka peluang percepatan adopsi kendaraan listrik di Indonesia.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM, dan LJK Lainnya Otoritas Jasa Keuangan, Agusman, menyatakan dinamika global tersebut dapat menjadi momentum bagi industri pembiayaan untuk memperluas portofolio ke sektor ramah lingkungan.
“Dinamika geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan BBM perlu dicermati sebagai peluang percepatan adopsi kendaraan listrik di Indonesia sehingga industri multifinance dapat memperluas portofolio pembiayaan hijau,” ujar Agusman dalam lembar jawaban tertulis, Jumat (24/4/2026).
Hingga kini, OJK mencatat kinerja pembiayaan kendaraan listrik mengalami pertumbuhan signifikan. Per Februari 2026, penyaluran pembiayaan di segmen tersebut meningkat 39,35% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp21,94 triliun.
“Pada Februari 2026, penyaluran pembiayaan kendaraan listrik oleh multifinance tumbuh 39,35% yoy menjadi Rp21,94 triliun, yang didominasi pembiayaan kendaraan roda empat listrik dan hybrid sebesar 83,52% dengan nominal Rp18,32 triliun,” kata Agusman.
Dominasi kendaraan roda empat listrik dan hybrid tersebut menunjukkan pembiayaan masih terkonsentrasi pada segmen kendaraan penumpang dibandingkan kendaraan roda dua.
Di sisi lain, Chief Financial Officer Adira Finance, Sylvanus Gani Mendrofa, mengatakan masih ada tantangan untuk mendorong konsumen beralih ke kendaraan listrik.
Menurutnya, harga BBM bukan faktor utama yang memengaruhi keputusan konsumen. Faktor yang lebih menentukan adalah preferensi dan tingkat literasi masyarakat terkait kesiapan beralih ke kendaraan listrik atau electric vehicle (EV).
Baca Juga: Pasar EV Tembus 21,7 Persen, Kemenperin Targetkan Produksi Mobil Listrik Nasional pada 2028
Baca Juga: Purbaya Ungkap Pajak EV Sama Saja, Hanya Pindah Skema
Baca Juga: Prabowo Bangga Capaian Industri EV Nasional, Targetkan Produksi Massal Mobil Listrik pada 2028
Bagi konsumen pemula, sebagian masih ragu beralih dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik karena mempertimbangkan nilai jual kembali di pasar sekunder. Menurut Gani, sebagian konsumen menilai risiko finansial kepemilikan EV masih relatif tinggi.
“Kadang-kadang pembeli pertama masih deg-degan membeli mobil EV. Misalnya beli Rp200 juta, lalu tiga tahun kemudian saat dijual lagi apakah bisa diterima kalau harganya tinggal Rp80 juta?” ujar Gani kepada Warta Ekonomi, Kamis (5/3/2026).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri