Elite Rusia Mulai Ragukan Misi Putin, Target Menaklukkan Ukraina Dinilai Sulit Tercapai
Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Retakan mulai terlihat di kalangan elite Rusia seiring berlarut-larutnya perang Ukraina yang kini memasuki tahun kelima. Sejumlah tokoh yang selama ini dekat dengan narasi Kremlin mulai secara terbuka meragukan peluang Rusia meraih kemenangan mutlak dalam konflik tersebut.
Melansir Kompas.com, suara-suara yang menyerukan evaluasi terhadap strategi perang mulai bermunculan dari kalangan politik, akademisi, hingga mantan pejabat Rusia. Mereka menilai tujuan awal invasi yang dicanangkan Presiden Rusia Vladimir Putin semakin sulit diwujudkan di tengah kondisi medan perang yang terus berkembang.
Salah satu kritik paling keras datang dari Oleg Tsaryov, mantan anggota parlemen Ukraina yang melarikan diri ke Rusia setelah konflik 2014. Tsaryov menilai propaganda yang selama ini dibangun Kremlin telah menciptakan ekspektasi kemenangan yang tidak sejalan dengan realitas di lapangan.
Menurut Tsaryov, benturan antara harapan dan kenyataan kini mulai dirasakan oleh publik maupun elite Rusia. Ia memperingatkan bahwa situasi tersebut berpotensi memunculkan kekecewaan yang lebih besar jika perang terus berlanjut tanpa hasil yang jelas.
"Cepat atau lambat, dunia ilusi dan kenyataan ini harus bertabrakan. Dan sekarang hal itu terjadi dalam bentuk yang paling menyakitkan," tulis Tsaryov melalui Telegram.
Pandangan serupa disampaikan sejarawan sekaligus mantan pejabat Kremlin, Aleksey Chadaev. Ia menilai kelanjutan perang dengan strategi saat ini justru berisiko membawa Rusia menuju posisi yang lebih buruk dibanding sebelumnya.
Chadaev bahkan memperingatkan bahwa Rusia tidak hanya menghadapi kemungkinan gagal menang, tetapi juga terancam mengalami kekalahan strategis. Karena itu, ia mendorong adanya jeda untuk mengonsolidasikan kembali kekuatan negara sebelum memasuki fase konflik berikutnya.
"Melanjutkan perang saat ini bukan hanya menuju ketidakmenangan, tetapi juga bisa berujung pada kekalahan besar."
Perdebatan semakin menguat setelah pakar hubungan internasional Rusia, Vasily Kashin, menerbitkan analisis yang banyak diperbincangkan di Moskwa. Dalam tulisannya, Kashin menyebut tujuan utama Rusia untuk mengembalikan Ukraina ke orbit politik Moskwa kini semakin tidak realistis.
Menurut Kashin, perang justru memperkuat identitas nasional Ukraina yang semakin dekat dengan Barat. Kondisi tersebut membuat harapan Kremlin untuk membentuk pemerintahan pro-Rusia di Kyiv menjadi semakin sulit diwujudkan.
Ia menilai Ukraina akan tetap menjadi negara yang anti-Rusia dan pro-Barat meskipun perang berlangsung lebih lama. Banyaknya korban jiwa dan kerusakan yang terjadi selama konflik disebut telah memperdalam jarak politik maupun sosial antara kedua negara.
Kashin juga mengingatkan bahwa Rusia tidak memiliki kepentingan untuk terus mengorbankan sumber daya manusia dan potensi ekonominya demi mengejar target yang semakin sulit dicapai. Menurutnya, perang berkepanjangan justru berpotensi menguras kekuatan nasional Rusia dalam jangka panjang.
Analisis tersebut mendapat perhatian luas karena mencerminkan munculnya kelompok pragmatis di kalangan elite Rusia. Mereka mulai mempertanyakan manfaat strategis dari perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun.
Direktur Carnegie Russia Eurasia Center di Berlin, Alexander Gabuev, mengatakan sebagian elite Rusia mulai menyadari bahwa perang berkepanjangan tidak banyak meningkatkan posisi tawar Moskwa. Sebaliknya, konflik yang terus berlanjut justru memperbesar biaya ekonomi, politik, dan militer yang harus ditanggung Rusia.
"Sepertinya pada tahun kelima perang, sebagian orang mulai menyadari bahwa melanjutkan perang satu atau dua tahun lagi tidak secara serius memperbaiki posisi negosiasi Rusia. Semakin jelas bagi mereka bahwa sudah waktunya untuk mengakhirinya."
Meski demikian, pandangan tersebut belum menjadi sikap resmi Kremlin. Kelompok garis keras Rusia masih mendominasi sejumlah posisi penting dan terus mendorong pendekatan militer terhadap Ukraina.
Di tengah munculnya keraguan dari sebagian elite, Putin justru meningkatkan intensitas serangan terhadap berbagai wilayah Ukraina. Dalam beberapa hari terakhir, Rusia melancarkan serangan rudal besar-besaran ke Kyiv dan sejumlah kota lainnya.
Serangan pada awal pekan ini dilaporkan menewaskan sedikitnya 22 warga sipil dan melukai lebih dari 100 orang. Insiden tersebut menjadi salah satu serangan paling mematikan dalam beberapa bulan terakhir.
Beberapa jam sebelum serangan berlangsung, Putin bahkan menyatakan Ukraina harus menghadapi “kualitas baru dari seluruh konflik”.
Baca Juga: Dari Rusia, AHY Bawa Pulang Proyek PLTN Terapung-Kapal Cepat
Di sisi lain, Ukraina juga terus meningkatkan serangan jarak jauhnya ke wilayah Rusia dan daerah pendudukan. Serangan drone Ukraina dalam beberapa pekan terakhir dilaporkan mengganggu jalur logistik, terminal energi, hingga konvoi militer Rusia.
Perkembangan itu membuat sejumlah pengamat militer Rusia mulai memperingatkan kemungkinan operasi besar Ukraina pada fase berikutnya. Situasi tersebut semakin memperkuat kesan bahwa perang telah berubah menjadi konflik panjang yang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Sementara suara-suara pragmatis mulai mendapat ruang di kalangan elite Rusia, belum ada indikasi Putin akan mengubah strategi yang dijalankannya saat ini. Perbedaan pandangan di dalam lingkaran kekuasaan Rusia pun menjadi salah satu dinamika penting yang akan menentukan arah perang Ukraina ke depan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama
Tag Terkait: