Pemimpin Dua Tangan di Era Disrupsi
Oleh: Trioksa Siahaan, Head of Research Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI)
Kredit Foto: Antara/Rivan Awal Lingga
Disrupsi kini bukan sekadar wacana teknologi. Ia telah mengubah lanskap bisnis, perbankan, birokrasi, hingga BUMN. Digitalisasi layanan, kecerdasan buatan, ekonomi platform, serta tuntutan efisiensi membuat organisasi harus bergerak lebih cepat, adaptif, dan inovatif. Dalam situasi ini, muncul pertanyaan mendasar: apakah pemimpin harus fokus menjaga stabilitas atau mendorong inovasi?
Organisasi masa depan tidak cukup hanya digital, tetapi harus cerdas secara sistem, budaya, dan kepemimpinan. Pemimpin "dua tangan" menjadi kunci menjaga stabilitas sekaligus mendorong inovasi. Laporan transformasi organisasi global menunjukkan bahwa perusahaan yang mampu menyeimbangkan efisiensi operasional dan inovasi strategis memiliki tingkat ketahanan bisnis hingga 2,1 kali lebih tinggi dalam menghadapi krisis dibandingkan organisasi yang hanya berfokus pada salah satunya. Ini menegaskan bahwa keseimbangan bukan sekadar pilihan manajerial, melainkan faktor survival organisasi di era disrupsi.
Disrupsi akan terus terjadi. Organisasi yang bertahan bukanlah yang paling besar, melainkan yang paling adaptif tanpa kehilangan arah. Laporan Deloitte bahkan mencatat bahwa 76% organisasi yang gagal bertransformasi disebabkan bukan oleh teknologi, melainkan oleh kegagalan kepemimpinan dalam mengelola perubahan dan inovasi secara bersamaan. Sementara itu, survei PwC menunjukkan bahwa hanya 31% CEO yang menilai organisasinya benar-benar siap menghadapi disrupsi digital, meskipun lebih dari 70% telah berinvestasi besar pada teknologi.
Dikotomi antara stabilitas dan inovasi karena itu tidak lagi relevan. Pemimpin dituntut mampu menjalankan keduanya secara simultan. Dalam literatur kepemimpinan modern, kemampuan ini dikenal sebagai Leadership Ambidexterity, yaitu kepemimpinan yang menyeimbangkan eksplorasi dan eksploitasi.
Konsep ini berakar dari pemikiran James G. March tentang exploration dan exploitation. Exploration merujuk pada inovasi, eksperimen, dan penciptaan model baru. Sementara itu, exploitation menekankan efisiensi, kontrol, serta optimalisasi sistem yang sudah berjalan. Organisasi yang terlalu fokus pada eksploitasi akan stabil namun stagnan. Sebaliknya, yang terlalu eksploratif akan inovatif tetapi rapuh secara tata kelola. Karena itu, kepemimpinan ambidextrous menjadi fondasi organisasi yang adaptif.
Berbagai riset global menegaskan pentingnya keseimbangan ini. Studi Tushman dan O'Reilly menunjukkan bahwa organisasi ambidextrous memiliki peluang keberhasilan transformasi hampir dua kali lipat dibanding organisasi yang hanya berfokus pada efisiensi. Rosing, Frese, dan Bausch (2011) juga menemukan bahwa kombinasi perilaku membuka ruang kreativitas dan mengontrol implementasi terbukti meningkatkan performa inovasi tim secara signifikan.
Laporan transformasi digital global McKinsey (2023) memperkuat temuan tersebut. Dalam survei terhadap lebih dari 1.500 organisasi, perusahaan dengan kepemimpinan ambidextrous memiliki tingkat keberhasilan transformasi digital 1,8 kali lebih tinggi, produktivitas inovasi meningkat hingga 25%, dan kecepatan time to market produk baru meningkat 30%. IBM Institute for Business Value bahkan mencatat bahwa organisasi yang menyeimbangkan governance dan inovasi memperoleh ROI transformasi digital 32% lebih tinggi.
Temuan global ini menemukan relevansinya di Indonesia, khususnya sektor perbankan, publik, dan BUMN yang sedang berada dalam fase akselerasi transformasi digital. Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Asia Business Studies menunjukkan bahwa leadership ambidexterity berpengaruh positif terhadap organizational innovation dengan koefisien 0,58. Artinya, semakin tinggi kemampuan pemimpin menyeimbangkan kontrol dan eksplorasi, semakin kuat daya saing organisasi.
Dalam sektor perbankan, riset pada Jurnal Aplikasi Manajemen (2022) menemukan bahwa kepemimpinan ambidextrous berkontribusi 46,3% terhadap keberhasilan transformasi digital banking. Data Bank Indonesia menunjukkan nilai transaksi digital meningkat lebih dari 158% dalam lima tahun terakhir, sementara pengguna mobile banking tumbuh di atas 20% per tahun. Namun di sisi lain, laporan OJK mencatat peningkatan insiden fraud digital dan serangan siber perbankan dengan tren kenaikan dua digit setiap tahun. Tanpa kepemimpinan yang mampu menyeimbangkan inovasi dan kontrol risiko, akselerasi digital justru berpotensi meningkatkan kerentanan sistem keuangan.
Sementara itu, penelitian pada Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan (2023) menemukan bahwa leadership ambidexterity berpengaruh signifikan terhadap organizational agility BUMN dengan koefisien 0,52. Transformasi BUMN yang mencakup digitalisasi layanan, restrukturisasi bisnis, hingga pembentukan holding industri menuntut kepemimpinan yang mampu menjaga tata kelola sekaligus mendorong inovasi.
Jika dianalisis lebih dalam, ada tiga implikasi strategis dari kepemimpinan ambidextrous di sektor nasional.
Pertama, mitigasi risiko transformasi. Digitalisasi tanpa governance berpotensi menimbulkan fraud, compliance failure, dan reputational risk.
Kedua, peningkatan daya saing global. Organisasi ambidextrous lebih cepat mengadopsi teknologi sekaligus menjaga efisiensi operasional.
Ketiga, keberlanjutan organisasi. Keseimbangan eksplorasi-eksploitasi memastikan inovasi tidak bersifat disruptif internal, melainkan terkelola.
Namun, membangun kepemimpinan dua tangan bukan tanpa tantangan. Hambatan struktural seperti birokrasi kaku, silo organisasi, dan resistensi perubahan masih dominan. Banyak organisasi masih menilai kinerja hanya dari stabilitas, bukan dari kapasitas inovasi.
Baca Juga: Indonesia Perkuat Ketahanan Nasional di Tengah Ketidakpastian Global
Karena itu, dibutuhkan kerangka kepemimpinan masa depan yang lebih integratif. Salah satu pendekatan yang relevan adalah konsep SMART Leader for SMART Future. Paradigma ini menempatkan pemimpin sebagai aktor transformasi yang tidak hanya adaptif terhadap teknologi, tetapi juga strategis dalam mengelola perubahan organisasi.
SMART Leader menggambarkan kepemimpinan yang strategic, multi-adaptive, agile, resilient, dan transformative. Ketika dipadukan dengan leadership ambidexterity, lahirlah profil pemimpin yang mampu menjaga stabilitas organisasi sekaligus menavigasi masa depan digital.
Pada akhirnya, masa depan sektor bisnis, perbankan, dan BUMN Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinannya. Kita membutuhkan lebih banyak pemimpin yang mampu bekerja dengan dua tangan: satu menjaga stabilitas, satu lagi membangun masa depan inovasi. Karena di era disrupsi, stabilitas saja tidak cukup. Inovasi saja juga tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah keduanya berjalan beriringan dalam satu kepemimpinan yang utuh, adaptif, dan visioner.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: