Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Permintaan Tinggi, Bank Mega Syariah Ekspansi Pembiayaan Emas

Permintaan Tinggi, Bank Mega Syariah Ekspansi Pembiayaan Emas Kredit Foto: Bank Mega Syariah
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketidakpastian geopolitik global yang masih berlangsung hingga 2026 mendorong investor untuk semakin selektif dalam menempatkan aset. Dalam kondisi ini, emas kembali menguat sebagai instrumen investasi yang tidak hanya defensif, tetapi juga relevan dalam menjaga stabilitas nilai kekayaan.

Secara global, permintaan emas menunjukkan tren yang kuat. World Gold Council mencatat pembelian emas oleh bank sentral dunia telah menembus lebih dari 1.000 ton per tahun dalam beberapa tahun terakhir. Catatan ini menjadi salah satu level tertinggi sepanjang sejarah. 

Baca Juga: Nicholas John Green Resmi Jabat Direktur Merdeka Gold (EMAS)

Di dalam negeri, tren tersebut juga tercermin dari perilaku investor. Berdasarkan survei Jakpat bertajuk Indonesia Investment Trends melaporkan instrumen berbasis emas dan aset fisik menjadi pilihan utama masyarakat pada 2025. Perhiasan dipilih oleh 67% responden, diikuti logam mulia/emas sebesar 66%, serta properti 63%.

Berdasarkan survei Populix pada Januari 2026, emas menjadi instrumen yang paling mendominasi dengan tingkat kepercayaan mencapai 80%. Angka ini menunjukkan kesenjangan yang sangat signifikan dibandingkan aset lainnya, di mana uang tunai berada di posisi kedua dengan 7%, disusul oleh properti atau real estate sebesar 6%. Sementara itu, instrumen yang memiliki volatilitas lebih tinggi atau kompleksitas berbeda seperti saham (3%), obligasi (2%), serta kripto dan valuta asing yang masing-masing hanya menyentuh 1%.

Digital Business & Product Management Division Head Bank Mega Syariah, Benadicto Alvonzo Ferary, mengatakan bahwa profil investasi emas saat ini telah mengalami perubahan signifikan. 

Menurutnya, emas memiliki karakteristik unggul sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakstabilan ekonomi. Dalam situasi ketidakseimbangan ekonomi global mulai dari tekanan inflasi hingga volatilitas pasar keuangan emas cenderung mampu mempertahankan daya beli dan memberikan stabilitas nilai aset.

“Dalam kondisi global yang penuh ketidakpastian, emas semakin dipandang sebagai alat proteksi nilai. Kami melihat adanya pergeseran perilaku investor, di mana emas kini menjadi instrumen utama dalam strategi investasi jangka panjang, bukan sekadar pelengkap,” ujarnya yang dikutip

Selain itu, ia menambahkan emas juga dikenal sebagai instrumen investasi jangka panjang yang relatif stabil. Berbeda dengan instrumen berisiko tinggi yang sensitif terhadap sentimen pasar, emas memiliki kecenderungan nilai yang meningkat dalam jangka panjang, sehingga cocok untuk perencanaan keuangan masa depan.

Sebagai bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap investasi emas, Bank Mega Syariah menghadirkan produk pembiayaan emas Flexi Gold dengan skema yang dirancang fleksibel dan terjangkau. Nasabah dapat memiliki emas logam mulia 24 karat secara bertahap, dengan pilihan tenor pembiayaan mulai dari 1 hingga 5 tahun serta pilihan gramasi yang beragam, mulai dari 5 gram hingga 100 gram.

Lebih lanjut, Flexi Gold telah disusun sesuai dengan prinsip syariah dan mendapatkan persetujuan Dewan Pengawas Syariah, dengan mengacu pada sejumlah fatwa Majelis Ulama Indonesia terkait jual beli emas, pembiayaan berbasis rahn, serta akad murabahah.

“Melalui Flexi Gold, kami ingin membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk memiliki emas secara bertahap. Dengan cicilan yang ringan dan terjangkau, nasabah dapat membangun portofolio investasi jangka panjang secara disiplin sekaligus memanfaatkan momentum penguatan harga emas,” tambah Benadicto.

Produk pembiayaan emas Flexi Gold Bank Mega Syariah mencatatkan kinerja positif sepanjang tiga bulan pertama tahun 2026. Hingga Maret 2026, penyaluran Flexi Gold tumbuh lebih dari 756% dibandingkan posisi Desember 2025. 

Baca Juga: Hadapi Fluktuasi Harga Emas, Bank Mega Syariah Dorong Nasabah Optimalkan Strategi Buy the Dip

Minat masyarakat terhadap Flexi Gold tercatat cukup tinggi di wilayah Jabodetabek dan kota-kota besar di Pulau Jawa serta Sumatera. Secara khusus, Jakarta mendominasi pasar dengan kontribusi terbesar mencapai 41,79% dari total nilai booking nasional, disusul oleh Tangerang yang mencatatkan proporsi signifikan sebesar 14,08%, dan Palembang di posisi ketiga dengan andil sebesar 7,15%. Selain ketiga kota utama tersebut, pembiayaan ini juga diminati oleh masyarakat di berbagai kota strategis lainnya seperti Bandung, Semarang, Depok, Surabaya, Yogyakarta, Makassar, serta Medan dan sekitarnya, yang secara akumulatif mencakup sisa 36,98% dari total portofolio pembiayaan emas perusahaan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar