Industri Elektronik Tertekan, Konflik Iran-Amerika Serikat Picu Lonjakan Harga PCB
Kredit Foto: OctaFX
Konflik Iran dan Amerika Serikat mulai berdampak luas ke industri teknologi global setelah mengganggu pasokan bahan baku penting untuk pembuatan printed circuit board (PCB).
PCB adalah merupakan komponen utama yang digunakan dalam hampir semua perangkat elektronik, mulai dari smartphone, komputer, hingga server kecerdasan buatan (AI). Gangguan terhadap pasokan barang ini dapat berdampak luas terhadap ekonomi global.
Baca Juga: Rusia-Teheran Intensifkan Diplomasi Saat Trump Dikecewakan Proposal Terbaru Iran
Dikutip dari Reuters, Gangguan tersebut disebakan oleh serangan terhadap kompleks petrokimia dari Jubail di Arab Saudi. Serangan Iran itu telah menyebabkan terhentinya produksi resin polyphenylene ether (PPE) berkualitas tinggi, yang mana merupakan bahan utama dalam produksi dari PCB.
Selain gangguan produksi, aktivitas pengiriman dari kawasan juga terganggu akibat konflik. Hal tersebut memperparah keterbatasan pasokan bahan baku ke pasar global.
PCB sendiri telah mengalami kenaikan harga telah meningkat sejak akhir tahun lalu. Permintaan yang meningkat pesat, terutama untuk server akal imitasi, mempercepat kenaikan harga tersebut. Lonjakan kebutuhan infrastruktur akal imitasi membuat perusahaan teknologi bersedia membayar lebih mahal demi memastikan pasokan tetap tersedia.
Waktu tunggu untuk bahan kimia seperti resin epoksi meningkat drastis dari tiga minggu menjadi hingga lima belas minggu, menunjukkan tekanan besar pada rantai pasok.
Adapun lonjakan terbesar atas printed circuit board terjadi akibat perang dari Iran dan Amerika Serikat. Kejadian tersebut membuat kenaikan harga hingga 40%.
Di sisi lain, selain polyphenylene ether, bahan penting lain seperti serat kaca dan foil tembaga juga mengalami kelangkaan. Harga foil tembaga naik hingga 30%. Sementara tembaga sendiri menyumbang sekitar 60% biaya bahan baku dari PCB.
Kondisi ini menjadi pukulan tambahan bagi produsen elektronik yang sebelumnya sudah menghadapi kenaikan harga chip memori. Industri terkait kini lebih fokus mengamankan pasokan bahan baku dibanding memenuhi permintaan pelanggan, mencerminkan ketegangan serius dalam rantai pasok.
Krisis ini menunjukkan bagaimana konflik geopolitik dapat merambat ke sektor teknologi dan memicu inflasi harga pada berbagai produk elektronik. Dengan permintaan yang diperkirakan terus melampaui pasokan dalam beberapa tahun ke depan, harga komponen elektronik lainnya berpotensi tetap tinggi.
Adapun saat ini, belum ada tanda-tanda berlanjutnya negosiasi damai dari Iran dan Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dilaporkan tidak senang atas prorposal dari Iran. Ia tidak puas dengan proposal itu karena hal tersebut tidak menyentuh isu utama terkait program nuklir dari Teheran.
Proposal Iran sendiri dilaporkan mencakup penundaan pembahasan program nuklir hingga perang berakhir dan isu pelayaran di Selat Homruz. Namun, pendekatan ini bertentangan dengan posisi isu nuklir dari Washington.
Tahap awal proposal tersebut mencakup penghentian perang serta penyelesaian blokade laut dan pembukaan kembali wilayah dari Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital bagi distribusi energi global yang saat ini terganggu akibat konflik.
Iran, setelah isu keamanan dan pelayaran diselesaikan, ingin pembahasan berlanjut ke program nuklir, termasuk tuntutan pengakuan hak memperkaya uranium untuk tujuan damai.
Baca Juga: Libatkan Teknologi Canggih, Amerika Serikat-Filipina Gelar Latihan Militer di Laut China Selatan
Namun, Washington menegaskan bahwa isu nuklir harus menjadi bagian dari negosiasi sejak awal. Ia ingin hal tersebut menjadi syarat utama dalam setiap kesepakatan dari Iran dan Amerika Serikat.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar