Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dry Port KITB, Proyek Rp2,4 Triliun yang Siap Ubah Peta Logistik Jateng

Dry Port KITB, Proyek Rp2,4 Triliun yang Siap Ubah Peta Logistik Jateng Kredit Foto: KITB
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemerintah mendorong pengembangan Dry Port Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) untuk memperkuat sektor logistik nasional, khususnya di Jawa Tengah.

Pengembangan ini dilakukan melalui kolaborasi antara PT Kereta Api Indonesia, PT Pelabuhan Indonesia, PT KITB, dan PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah, yang ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tentang pembangunan dan pengusahaan logistik berbasis rel di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Selasa (21/4/2026).

“Pembangunan Dry Port KITB merupakan langkah nyata untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang, memperkuat daya saing produk Indonesia, sekaligus menjadikan Batang sebagai simpul logistik penting di Jawa Tengah,” ungkap Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dikutip dari siaran pers Kemenko Perekonomian, Rabu (29/4).

Dalam kesempatan tersebut, Deputi Ali menyampaikan pula arahan Menteri Kooordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengenai percepatan pembangunan Dry Port Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB). Sebagai Ketua Satuan Tugas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2026, Menko Airlangga menegaskan bahwa dry port akan menjadi instrumen strategis dalam meningkatkan efisiensi transportasi logistik nasional. Kehadiran infrastruktur ini diharapkan mampu menekan biaya distribusi sekaligus mempercepat arus barang dari dan menuju kawasan industri. Infrastruktur ini dapat menjadi katalisator sistem logistik nasional yang modern, efisien, dan berkelanjutan, sekaligus membuka peluang pencapaian target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen pada tahun 2029 sesuai RPJMN 2025–2029.

Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,11 persen pada 2025, bahkan meningkat menjadi 5,39 persen pada Kuartal IV. PDB per kapita mencapai Rp83,75 juta atau setara USD5.082. Investasi juga menunjukkan tren positif dengan realisasi Rp1.931,2 triliun, naik 12,7 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sektor transportasi dan pergudangan menjadi salah satu motor utama pertumbuhan, dengan capaian 8,78 persen pada Kuartal IV 2025 dan kontribusi lebih dari 6 persen terhadap PDB.

“Efisiensi sektor ini berimbas langsung pada kelancaran distribusi barang dan memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global,” ujar Deputi Ali.

Dry Port KITB diproyeksikan mampu menangkap potensi hingga 300.000 TEUs dari total 4 juta TEUs yang melintas di koridor Jawa Tengah. Untuk mewujudkannya, diperlukan investasi awal sekitar Rp2,4 triliun yang mencakup pembangunan container yard, infrastruktur rel, serta fasilitas pendukung lainnya.

Selain itu, KEK Batang ditargetkan menjaring investasi hingga Rp60 triliun dalam 4–5 tahun ke depan. “Dry port ini akan menjadi jantung layanan logistik terintegrasi bagi puluhan pabrik dan industri baru yang akan berdiri di kawasan ini,” pungkas Deputi Ali.

Baca Juga: Dirikan KEK Sektor Keuangan di Bali, Danantara Jadi Pengelola?

Baca Juga: Prabowo Dorong KEK Jadi Senjata Baru Ekonomi RI

Sejak beroperasi, KITB telah menyerap 5.500 tenaga kerja dari enam perusahaan. Dengan pengembangan Dry Port, penyerapan tenaga kerja diproyeksikan melonjak hingga 39.000 orang pada 2029. Hal ini diharapkan mampu memberikan kontribusi besar bagi pengurangan pengangguran dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Deputi Ali menekankan pentingnya percepatan eksekusi MoU tersebut oleh seluruh pihak terkait. Pemerintah, melalui Kemenko Perekonomian, berkomitmen untuk terus mendukung dan memfasilitasi penuh setiap proses agar iklim investasi dan usaha tetap kondusif. 

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya