Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Kementerian Perindustrian mengimbau sektor manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor untuk memanfaatkan skema Local Currency Settlement (LCS) dari Bank Indonesia. Langkah ini merupakan respons atas menguatnya nilai tukar dolar AS yang mencapai level Rp17.326 atau melemah 0,48% terhadap rupiah.
Skema LCS memungkinkan pelaku industri melakukan transaksi perdagangan antarnegara menggunakan mata uang lokal masing-masing tanpa harus bergantung pada dolar AS. "Pembelian bahan baku menggunakan mata uang antara dua negara, misalkan dari negara A, bisa pakai mata uang negara A," ujar Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief, Rabu (29/4/2026).
Pemerintah menilai kondisi nilai tukar saat ini menjadi momentum strategis bagi industri dalam negeri untuk memperluas penetrasi ke pasar ekspor global. Industri yang selama ini hanya berfokus pada pasar domestik didorong untuk segera masuk ke dalam rantai pasok internasional guna memanfaatkan selisih kurs.
Produk berbasis bahan baku domestik seperti CPO dan produk kertas dinilai memiliki daya saing yang jauh lebih kompetitif di luar negeri saat rupiah tertekan. "Salah satu juga kenapa ekspor kita meningkat itu karena produk-produk kita makin bersaing di luar negeri," tutur Plt. Dirjen Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika.
Tekanan nilai tukar terhadap industri pengolah bahan baku impor dilaporkan belum memberikan dampak signifikan bagi operasional saat ini. Hal tersebut disebabkan oleh adanya sistem Neraca Komoditas yang memastikan ketersediaan stok melalui kontrak jangka panjang dengan harga yang sudah terkunci.
Baca Juga: Rupiah Tertekan, Industri Asuransi Hadapi Biaya Naik
"Barangnya sudah banyak masuk ke Indonesia, sehingga di sisi industri-industrinya masih bisa dengan bahan baku yang ada," tambah Putu menekankan ketahanan stok nasional. Pemerintah akan terus memantau perkembangan nilai tukar untuk mengantisipasi potensi tekanan biaya produksi di masa mendatang.
Implementasi skema LCS diharapkan dapat menjaga stabilitas biaya operasional industri di tengah fluktuasi mata uang Paman Sam yang terus menguat. Di samping itu, penguatan daya saing produk lokal menjadi fokus utama guna menjaga neraca perdagangan tetap positif bagi Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: