Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Ghalibaf: Amerika Serikat Ingin Pecah-belah Iran

Ghalibaf: Amerika Serikat Ingin Pecah-belah Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Iran mengatakan bahwa negaranya coba dipecah-belah oleh Amerika Serikat. Hal tersebut dilakukan melalui beragam tekanan, salah satunya dengan blokade yang dilakukan oleh Washington di Selat Hormuz.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan bahwa blokade yang dilakukan negara tersebut bertujuan untuk memecahkan persatuan masyarakat dari Teheran. Amerika Serikat menurutnya berupaya membagi spktrum politik negaranya menjadi dua kelompok yakni garis keras dan moderat, sebelum menekan melalui blokade ekonomi.

Baca Juga: Amerika Serikat Dinilai Tak Punya Strategi Jelas dalam Perang Iran

Menurut Ghalibaf, strategi ini telah memasuki fase baru yang menggabungkan tekanan ekonomi, operasi media, dan upaya menciptakan konflik internal di Iran.

“Musuh ingin mengaktifkan tekanan ekonomi dan perpecahan internal melalui blokade laut dan propaganda untuk melemahkan atau bahkan membuat kami runtuh dari dalam,” ujar Ghalibaf.

Sebagai respons, ia menyerukan pentingnya menjaga persatuan nasional. Ghalibaf menegaskan bahwa solidaritas internal menjadi kunci utama menghadapi tekanan eksternal.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menolak wacana pembukaan kembali Selat Hormuz. Ia menyebut strategi blokade lebih efektif dibandingkan aksi militer langsung terhadap Iran.

“Blokade ini lebih efektif daripada pengeboman. Mereka tercekik seperti babi dan akan semakin parah. Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir,” ujarnya.

Pernyataan ini sejalan dengan laporan bahwa sang presiden tidak senang atas prorposal baru dari Iran. Ia tidak puas dengan proposal itu karena hal tersebut tidak menyentuh isu utama terkait program nuklir dari Teheran.

Proposal Iran sendiri dilaporkan mencakup penundaan pembahasan program nuklir hingga perang berakhir dan isu pelayaran di Selat Homruz. Namun, pendekatan ini bertentangan dengan posisi isu nuklir dari Washington.

Tahap awal proposal tersebut mencakup penghentian perang serta penyelesaian blokade laut dan pembukaan kembali wilayah dari Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital bagi distribusi energi global yang saat ini terganggu akibat konflik.

Iran, setelah isu keamanan dan pelayaran diselesaikan, ingin pembahasan berlanjut ke program nuklir, termasuk tuntutan pengakuan hak memperkaya uranium untuk tujuan damai.

Diketahui, Amerika Serikat memberlakukan blokade terhadap pelabuhan dari Iran. Hal itu dilakukan sebagai respons atas langkah penutupan dari Selat Hormuz. Selat tersebut merupakan jalur strategis yang dilalui sebagian besar perdagangan minyak dan gas dunia.

Baca Juga: Trump Diskusi Bareng Elite Minyak Amerika Serikat, Blokade Iran Bakal Panjang?

Blokade dan saling tuding antara kedua negara menunjukkan konflik tidak hanya terjadi di ranah militer, tetapi juga ekonomi dan politik domestik. Tekanan ekonomi dan sanksi berpotensi memperburuk kondisi domestik, termasuk inflasi dan nilai tukar mata uang dari Iran.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar