- Home
- /
- EkBis
- /
- Agribisnis
Hadapi Ancaman Krisis Pangan Global, Anak Bangsa Hadirkan Pupuk Hayati Asli Indonesia
Kredit Foto: Istimewa
Lebih lanjut, Pamrihadi menambahkan bahwa Pureplant merupakan hasil riset terbaru yang dirancang untuk menjawab tantangan pertanian modern yang berkelanjutan.
“Pureplant tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga memperbaiki struktur dan kesehatan tanah secara alami. Ini menjadi bagian dari upaya kami mendorong pertanian yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berdaya saing global,” tambahnya.
Produk ini mengandung lima jenis mikroorganisme yang berfungsi memulihkan kesuburan tanah, menyediakan nutrisi penting, serta memenuhi unsur hara makro seperti nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K). Selain itu, Pureplant dilengkapi zat pengatur tumbuh (ZPT) yang mendukung perkembangan tanaman secara optimal.
Direktur Utama PT IBL, Mira Rachmiati, menyampaikan bahwa perusahaannya menjadi mitra strategis dengan hak eksklusif dalam pemasaran, penjualan, dan distribusi Pureplant.
“Kami juga akan menggandeng UMKM sebagai distributor, sehingga membuka peluang usaha sekaligus mendorong generasi muda untuk terlibat di sektor pertanian,” kata Mira.
Saat ini, Pureplant telah diaplikasikan pada sejumlah demplot padi dan jagung, termasuk di wilayah Jawa Barat dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Produk ini juga dapat digunakan pada berbagai sektor pertanian, mulai dari tanaman pangan, hortikultura, hingga perkebunan seperti kelapa sawit, buah-buahan, dan kelapa.
Ketua Umum Intani, Guntur Subagja Mahardika, mengapresiasi kolaborasi kedua perusahaan sebagai langkah strategis dalam pengembangan industri pertanian nasional, khususnya dalam penyediaan pupuk hayati ramah lingkungan.
Baca Juga: Mentan Ungkap Kasus Pupuk Palsu yang Rugikan Petani Rp3,3 Triliun
Baca Juga: Produksi Pupuk Nasional Surplus 1,5 Juta Ton, Indonesia Siap Ekspor ke India
Ia menekankan bahwa kebutuhan akan pupuk organik semakin mendesak, mengingat kondisi lahan pertanian di Indonesia yang kian memprihatinkan.
“Berdasarkan kajian FAO, sekitar 24 juta hektare lahan pertanian di Indonesia tergolong kritis dan membutuhkan pemulihan segera,” ujar Guntur.
Menurutnya, pengembangan pertanian ramah lingkungan atau green farming menjadi solusi penting untuk memulihkan lahan kritis secara berkelanjutan, sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: