Film Na Willa, Langkah Ekraf Bangun Karakter Anak Lewat Layar Lebar
Kredit Foto: Unsplash/GR Stocks
Pemerintah melalui Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) menegaskan dukungannya terhadap perfilman Indonesia, khususnya karya yang membawa pesan edukasi dan budaya seperti film Na Willa.
Hal tersebut ditunjukkan melalui kehadiran Wakil Menteri Ekraf dalam kegiatan nonton bareng film Na Willa bersama Sekolah Rakyat Kartini dan Yayasan Rumah Ceria Setu di Metropole, Jakarta, Selasa (5/5/2026).
“Kami ingin memastikan bahwa industri perfilman kita tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga mampu menjadi sarana pembentukan karakter bangsa bagi anak-anak Indonesia,” ujar Irene Umar, dikutip dari siaran pers Kementerian Ekraf, Rabu (6/5).
Selain nonton bareng, Irene Umar juga berdialog langsung dengan anak-anak untuk memahami cara pandang mereka terhadap konten kreatif lokal. Kedatangannya sekaligus memastikan distribusi konten kreatif dapat menjangkau anak-anak dari beragam latar belakang.
"Melalui film Na Willa, kita belajar melihat dunia dari kacamata anak-anak yang penuh imajinasi dan semangat Bhinneka Tunggal Ika. Mari dukung karya lokal yang memberi ruang bagi anak Indonesia untuk berani bermimpi, berkreasi, dan berinovasi tanpa batas demi masa depan bangsa," tambah Irene Umar.
Agenda nonton bareng Na Willa diselenggarakan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) berkolaborasi dengan Waroeng Imaji, Yayasan Pembina Karakter dan Seni Anak Rusun. Harapannya mampu memperkuat ekosistem film lokal yang inspiratif bagi generasi muda.
“Film Na Willa adalah tontonan yang sangat ramah anak dan penuh nilai moral. Kehadiran pemerintah sangat penting untuk memastikan anak-anak kita mendapatkan asupan konten yang sehat, aman, dan menginspirasi tumbuh kembang mereka secara positif,” ungkap Wakil Menteri PPPA, Veronica Tan.
Baca Juga: Ketegangan dan Budaya Lokal, Para Perasuk Perkuat Daya Saing Film Nasional
Film Na Willa mengisahkan petualangan imajinatif seorang gadis kecil berusia enam tahun di Surabaya pada era 1960-an, yang tumbuh dalam dinamika keluarga multikultural. Disajikan dari sudut pandang anak yang polos namun sarat imajinasi, film ini tak hanya menjadi tontonan edukatif di ruang publik, tetapi juga berperan sebagai medium penguatan literasi sekaligus ruang ekspresi kreatif bagi generasi muda.
"Semoga acara ini rutin hadir untuk menginspirasi adik-adik dalam membangun karakter dan menanamkan nilai-nilai baik melalui film," ujar Ketua Yayasan Waroeng Imaji, Dovieke Angsana.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: