Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Emas vs Saham: Mana yang Lebih Tahan Saat Pasar Lagi Goyang?

Emas vs Saham: Mana yang Lebih Tahan Saat Pasar Lagi Goyang? Kredit Foto: IDNGOLD
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dengan banyaknya instrumen investasi yang tersedia, investor sering bingung memilih antara emas dan saham sebagai pegangan untuk menjaga portofolio saat pasar sedang krisis.

Keduanya sama-sama dianggap bisa melindungi nilai dari inflasi, tetapi memiliki karakteristik berbeda, terutama ketika kondisi pasar tidak stabil.

Karakter Emas dan Saham Saat Krisis

1. Performa Saat Resesi

a. Emas: Biasanya menjadi “pelabuhan aman” bagi investor ketika ekonomi melemah. Nilainya relatif stabil, bahkan bisa naik saat pasar saham jatuh.

b. Saham: Harga saham cenderung turun karena kinerja perusahaan ikut tertekan. Namun, bagi investor jangka panjang, masa resesi justru bisa menjadi peluang membeli saham dengan harga lebih murah.

2. Dampak Inflasi dan Suku Bunga

a. Emas: Inflasi tinggi biasanya mendorong harga emas naik karena dianggap sebagai pelindung nilai. Jika suku bunga rendah, emas semakin menarik karena tidak ada “biaya peluang” besar untuk menyimpannya.

b. Saham: Lebih sensitif terhadap suku bunga. Ketika suku bunga naik, biaya pinjaman perusahaan meningkat, laba bisa tertekan, dan harga saham melemah. Sebaliknya, jika inflasi terkendali dan suku bunga stabil, saham berpotensi memberi keuntungan lebih tinggi dibanding emas.

Volatilitas dan Potensi Imbal Hasil

1. Stabilitas Emas

Emas dikenal sebagai aset yang relatif stabil. Saat pasar sedang bergej9olak, harga emas biasanya tidak turn drastis, bahkan bisa naik karena banyak investor yang mencari instrumen aman untuk menyimpan nilai. Bagi investor pemula, emas sering dianggap pilihan yang lebih tenang karena risikonya lebih rendah.

2. Potensi Growth Saham

Berbeda dari emas, saham cenderung lebih fluktuatif, harga bisa naik tinggi, namun juga bisa turn drastis dalam waktu singkat. Namun meski penuh risiko, saham menawarkan peluang pertumbuhan yang lebih besar dibanding emas.

Jika perusahaan berkembang dan laba meningkat, harga saham bisa melonjak, memberi keuntungan signifikan bagi investor yang berani mengambil risiko.

Mana yang Lebih Tahan Saat Pasar Turun?

1. Studi Historis Perbandingan

Berdasarkan sejarah, emas sering terbukti lebih kuat dalam menyimpan nilai saat pasar sedang jatuh. Misalnya, saat krisis finansial global 2008, harga saham banyak merosot tajam, sementara emas justru naik karena investor mencari aset aman.

Sebaliknya, saham memang lebih rentan turun saat krisis, tetapi setelah kondisi pulih, saham biasanya bangkit lebih cepat dan memberi imbal hasil lebih tinggi dibanding emas.

Baca Juga: Apa Itu Saham Preferen? Bedanya dengan Saham Biasa

Baca Juga: Menabung Emas Syariah Lagi Naik Daun, Ini Tips Biar Aman & Halal

2. Skenario Krisis Finansial

Ketika terjadi krisis finansial, emas cenderung stabil atau naik karena dianggap sebagai pelindung nilai. Investor pemula bisa melihat emas sebagai “payung” untuk menjaga portofolio tetap aman.

Namun, saham walau jatuh saat krisis, bisa menjadi peluang besar bagi investor jangka panjang. Membeli saham di harga rendah saat krisis sering kali menghasilkan keuntungan besar ketika pasar kembali pulih.

Strategi Kombinasi Emas dan Saham

1. Mengapa Perlu Diversifikasi?

Diversifikasi penting untuk memperkecil risiko sekaligus membuka peluang keuntungan. Emas memang aset yang stabil, namun pertumbuhannya terbatas.

Sedangkan saham mempunyai potensi keuntungan yang besar, namun harganya bisa naik turun tergantung kondisi pasar. Sehingga dengan menggabungkan keduanya, investor dapat menyeimbangkan antara keamanan dan pertumbuhan.

2. Proporsi yang Bijak

Tidak ada formula tunggal untuk menentukan proporsi ideal emas dan saham. Semua bergantung pada profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing investor.

Baca Juga: Turun Tipis, Emas Antam Hari Ini Dibanderol Rp2.839.000 per Gram

Namun bagi investor konservatif biasanya menaruh porsi lebih besar di emas (misalnya 70% emas, 30% saham) untuk menjaga stabilitas. Sedangkan investor agresif bisa membalik proporsi (misalnya 30% emas, 70% saham) agar tetap punya “pelindung” tapi tetap mengejar pertumbuhan.

3. Manfaat Kombinasi

Menggabungkan emas dan saham membuat portofolio lebih tahan banting menghadapi berbagai kondisi ekonom. Saat pasar turun, emas bisa menjaga nilai portofolio tetap aman, sedangkan saham dapat memberi keuntungan lebih tinggi saat pasar naik.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

Tag Terkait: