Kredit Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya
Bank Indonesia (BI) mencatat harga rumah residensial primer mulai mengalami penurunan di sejumlah kota pada triwulan I 2026, di tengah perlambatan penjualan properti nasional dan melemahnya permintaan rumah tapak.
Berdasarkan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) BI, beberapa kota mencatat kontraksi Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) secara tahunan (year-on-year/yoy). Penurunan harga terdalam terjadi di Pontianak sebesar 3,28% yoy, disusul Bandar Lampung 1,73% yoy dan Denpasar 0,12% yoy.
Secara nasional, harga properti residensial primer memang masih tumbuh terbatas sebesar 1,07% yoy pada triwulan I 2026. Namun, laju kenaikan tersebut dinilai belum merata di seluruh wilayah, seiring tekanan terhadap permintaan pasar properti.
Di sisi lain, penjualan properti residensial primer justru mengalami kontraksi cukup dalam sebesar 25,67% yoy pada triwulan I 2026. Kondisi tersebut berbalik dibandingkan triwulan sebelumnya yang masih tumbuh 0,73% yoy.
Penurunan penjualan paling dalam terjadi pada rumah tipe kecil yang tercatat anjlok 45,59% yoy. Sementara itu, penjualan rumah tipe menengah turun 8,84% yoy dan rumah tipe besar melemah 19,64% yoy.
Survei BI juga menunjukkan sejumlah faktor masih menjadi hambatan pengembangan properti residensial. Sebanyak 20,97% responden menyebut kenaikan harga bahan bangunan sebagai kendala utama, diikuti masalah perizinan dan birokrasi sebesar 17,74%, serta suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar 14,52%.
Baca Juga: Harga Rumah Tetap Naik Meski Permintaan Anjlok 25%
Baca Juga: OJK Siapkan Skema Asuransi untuk Program 3 Juta Rumah
Baca Juga: Pemerintah Bakal Luncurkan Skema Pembiayaan Baru untuk Rumah Susun
Di tengah perlambatan pasar, pembelian rumah melalui fasilitas KPR masih mendominasi dengan pangsa mencapai 69,87% dari total transaksi. Namun, pertumbuhan KPR residensial juga melambat menjadi 4,79% yoy pada triwulan I 2026, turun dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 7,05% yoy.
Sementara itu, mayoritas pengembang masih mengandalkan dana internal untuk pembiayaan pembangunan proyek. Pangsa pembiayaan dari dana internal tercatat sebesar 80,66%, sedangkan pembiayaan perbankan sebesar 16,11%.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri