Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rumah Subsidi Sepi Peminat, BI Catat Penjualan Turun 45%

Rumah Subsidi Sepi Peminat, BI Catat Penjualan Turun 45% Kredit Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya
Warta Ekonomi, Jakarta -

Penjualan rumah tapak primer tipe kecil tercatat mengalami kontraksi terdalam pada awal 2026. Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia (BI) menunjukkan penjualan rumah kecil turun 45,59% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan I 2026 di tengah perlambatan pasar properti residensial nasional.

Penurunan penjualan rumah kecil tersebut jauh lebih dalam dibandingkan rumah tipe menengah dan besar. Pada periode yang sama, penjualan rumah tipe menengah tercatat turun 8,84% yoy, sedangkan rumah tipe besar turun 19,64% yoy.

Secara keseluruhan, penjualan properti residensial primer pada triwulan I 2026 terkontraksi 25,67% yoy. Angka tersebut berbalik melemah dibandingkan triwulan IV 2025 yang sebelumnya masih tumbuh sebesar 0,73% yoy.

Perlambatan penjualan terjadi di tengah kenaikan harga properti residensial yang masih berlanjut. BI mencatat Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I 2026 tumbuh 1,07% yoy, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya sebesar 0,39% yoy.

Berdasarkan hasil survei BI, sejumlah faktor dinilai masih menjadi hambatan utama pengembangan properti residensial. Sebanyak 20,97% responden menyebut kenaikan harga bahan bangunan sebagai kendala utama, disusul perizinan dan birokrasi sebesar 17,74%, serta suku bunga KPR sebesar 14,52%.

Baca Juga: Harga Rumah Tetap Naik Meski Permintaan Anjlok 25%

Baca Juga: OJK Siapkan Skema Asuransi untuk Program 3 Juta Rumah

Baca Juga: Pemerintah Bakal Luncurkan Skema Pembiayaan Baru untuk Rumah Susun

Di sisi pembiayaan, mayoritas pengembang masih mengandalkan dana internal untuk pembangunan proyek properti. Pangsa dana internal tercatat sebesar 80,66%, sementara pembiayaan dari perbankan mencapai 16,11%.

Adapun dari sisi konsumen, skema Kredit Pemilikan Rumah (KPR) masih mendominasi pembelian rumah primer. BI mencatat 69,87% pembelian rumah dilakukan melalui fasilitas KPR, sedangkan pembelian tunai bertahap sebesar 20,11% dan tunai keras 10,02%.

Pertumbuhan KPR residensial juga tercatat melambat. Pada triwulan I 2026, pertumbuhan KPR hanya sebesar 4,79% yoy, turun dibandingkan triwulan IV 2025 sebesar 7,05% yoy.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Annisa Nurfitri