Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada awal perdagangan hari ini Selasa (12/5/2026). Berdasarkan data perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG naik 58,59 poin atau 0,85% ke level 6.964 pada sesi pembukaan.
IHSG memulai perdagangan di level 6.946 dan langsung bergerak naik hingga menyentuh posisi tertinggi harian di 6.977. Sementara itu, level terendah tercatat di 6.938 pada awal transaksi.
Aktivitas perdagangan menunjukkan sentimen pasar yang relatif positif. Hingga awal sesi, sebanyak 1,327 miliar saham telah diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp501,07 miliar dan frekuensi perdagangan sebanyak 97.816 kali transaksi.
Pergerakan saham mayoritas berada di jalur penguatan. Sebanyak 322 saham naik, 131 saham melemah, dan sisanya 209 saham stagnan. Adapun nilai kapitalisasi pasar tercatat berada di kisaran Rp12.444,78 triliun.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, mengatakan IHSG masih terlihat bullish divergence bila ditinjau dari indikator RSI meskipun pola upward bar terbentuk.
"Dari sisi indikator, Stochastics K_D menunjukkan sinyal negatif, dan volume mengalami penurunan, namun RSI sudah oversold atau jenuh jual," ungkap dia dalam analisisnya.
Fokus utama pasar pada hari ini adalah pengumuman hasil quarterly review dari MSCI. Terdapat kekhawatiran terkait potensi keluarnya beberapa saham big cap, seperti BREN dan DSSA pada pengumuman sebelumnya, karena kebijakan High Shareholder Concentration (HSC). Spekulasi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya aliran modal keluar asing yang signifikan.
Di sisi lain, terjadi kemunduran diplomatik baru antara Washington dan Teheran, dimana pada 11 Mei 2026, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi baru terhadap 12 entitas dan individu yang dituduh memfasilitasi perdagangan minyak ilegal Iran ke Tiongkok.
Baca Juga: IHSG Terkapar Jelang Pengumuman Rebalancing MSCI, Asing Kabur Rp751 Miliar
Baca Juga: Rebalancing MSCI hingga Windfall Tax Bayangi Pergerakan IHSG
Untuk sentimen positif, penguatan sektor teknologi dan optimisme terhadap kinerja emiten AI di AS memberikan risk-on sentiment yang positif bagi pasar ekuitas global, termasuk ke bursa emerging markets.
Di sisi lain, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang tetap berada di atas level 100, dan pertumbuhan penjualan mobil secara tahunan, serta penundaan rencana kenaikan royalti minerba, tentunya cukup dapat memberikan bantalan positif bagi market.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: