Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Penyesuaian Harga Energi Tak Terhindarkan di Tengah Krisis Global

Penyesuaian Harga Energi Tak Terhindarkan di Tengah Krisis Global Kredit Foto: MedcoEnergi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dinamika geopolitik global dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa isu energi kini tidak lagi sekadar persoalan komoditas, tetapi telah menjadi bagian dari stabilitas ekonomi dan keamanan nasional suatu negara. 

Konflik geopolitik, gangguan supply chain dan jalur distribusi energi, hingga meningkatnya kebutuhan energi di kawasan Asia telah menciptakan tekanan besar terhadap pasar energi global yang mendorong tren kenaikan harga BBM, LPG, hingga LNG di berbagai negara.

”Iya energi ini kan kebutuhan. Kalau tidak ada energi maka tidak ada kehidupan. Saat ada krisis maka paling utama diselamatkan ada dua; pertama kebutuhan pangan dan kedua energi. Jadi kalau ada ketegangan politik, dua hal itu diamankan,” ungkap Direktur Eksekutif Rofirminer Institute, Komaidi Notonegoro, kepada wartawan Selasa (12/5/2026).

Komaidi mengatakan bahwa kenaikan harga energi akibat geopolitik saat ini bersifat non-fundamental. Situasi semakin sulit ketika jalur distribusi global terganggu akibat penutupan Selat Hormuz. 

”Ini yang menjadi perhatian pengguna dan konsumen sehingga harga minyak menjadi tinggi dari seharusnya,” imbuh dia

Ketika harga minyak dunia melonjak, otomatis harga energi lain termasuk produk gas seperti LPG dan LNG ikut mengalami kenaikan. ”Harga LPG dan LNG di indeks-kan ke harga minyak mentah jadi dia pasti ikut naik,” ujarnya. 

Di Indonesia penyesuaian harga LPG industri non subsidi 50 kg telah mengalami penyesuaian mengikuti kenaikan harga LPG global berbasis CP Aramco. Harga LPG industri tercatat meningkat sekitar 25–26 persen, dari sekitar US$21,9 per MMBtu menjadi sekitar US$28,3 per MMBtu. Dalam rupiah, harga tabung LPG 50 kg naik dari sekitar Rp850 ribu menjadi sekitar Rp1,068 juta per tabung pada Mei 2026.

Begitu juga untuk BBM non-subsidi di dalam negeri. Indonesia telah memulai proses adaptasi tersebut melalui mekanisme penyesuaian harga BBM non subsidi pada Mei 2026 yang mengikuti dinamika pasar dan biaya energi global.

Terutama pada solar industri non subsidi yang mengalami kenaikan signifikan sekitar 77–84 persen, dari sekitar US$22,7 per MMBtu menjadi sekitar US$43 per MMBtu pada Mei 2026. Dalam rupiah, harga solar industri meningkat dari kisaran Rp14.200–14.500 per liter menjadi sekitar Rp26.000–27.900 per liter.

Merujuk data sejumlah lembaga energi internasional, harga energi regional diperkirakan dapat meningkat signifikan apabila terjadi gangguan distribusi atau eskalasi konflik global. Kondisi tersebut membuat banyak negara mulai memperkuat strategi ketahanan energinya melalui diversifikasi sumber energi, penguatan infrastruktur, serta penyesuaian kebijakan energi domestik. 

”Faktor non-fundamental ini sulit diprediksi akan sampai kapan dan berakhirnya seperti apa,” imbuhnya.

Penyesuaian Harga Perlu Dilakukan

Maka, lanjut Komaidi, penyesuaian harga memang perlu dilakukan dan mayoritas negara telah merealisasikannya di negara masing-masing. Bukan hanya BBM dan LPG, tetapi juga LNG. Apalagi, sepanjang 2026, pasar energi Asia diperkirakan masih menghadapi volatilitas tinggi. 

Fenomena itu tidak hanya terjadi di negara maju. Negara-negara ASEAN seperti Vietnam, Filipina, dan Singapura juga mulai melakukan penyesuaian strategi energi untuk menjaga keberlanjutan energi domestik. 

Vietnam misalnya, kini semakin bergantung pada pasokan LNG dengan harga yang mengikuti pasar spot Asia. Berdasarkan data PetroVietnam dan IEEFA 2026, harga gas di Vietnam telah mencapai sekitar US$27,81 per MMBtu.

Baca Juga: Kemenko Perekonomian Sebut Indonesia Masuk Negara Paling Tahan Krisis Energi

Baca Juga: Antisipasi Krisis Timur Tengah, Para Pemimpin ASEAN Sepakat Perkuat Ketahanan Energi dan Lirik Tenaga Nuklir

Sementara di Filipina, harga LNG tercatat mencapai sekitar US$28,50 per MMBtu berdasarkan data S&P Global dan Shell FGEN 2026. Adapun Singapura sebagai hub LNG regional mencatat harga yang jauh lebih tinggi.

Untuk sektor bulk industri, harga gas mencapai sekitar US$40,12 per MMBtu. Sedangkan pada sektor retail umum, harga gas Singapura mencapai sekitar US$47,54 per MMBtu.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tren kenaikan harga energi terjadi secara luas di kawasan ASEAN, termasuk pada negara-negara berkembang yang kini semakin bergantung pada pasokan LNG dan dinamika pasar energi global.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Dwi Aditya Putra