Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Tembus Rp17.500, Purbaya: Kita Bantu BI Besok dengan Bond Market

Rupiah Tembus Rp17.500, Purbaya: Kita Bantu BI Besok dengan Bond Market Kredit Foto: Cita Auliana
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan siap membantu Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar obligasi domestik.

Diketahui nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka anjlok 0,42% ke level Rp17.486 pada perdagangan Selasa (12//2026). 

Hingga pukul 09.44 WIB mata uang Garuda melemah makin tajam 0,52% menuju ke level Rp17.505 per USD.

"Kita bisa mulai membantu (BI) besok mungkin dengan masuk ke bond market," kata Purbaya kepada wartawan di Kementerian Keuangan, Selasa (11/5/2026).

Bendahara Negara itu menyatakan, salah upaya dilakukan dengan mengoptimalkan instrumen Bond Stabilization Fund (BSF). Langkah ini diharapkan menjaga stabilitas pasar domestik di tengah tekanan pasar keuangan global dan pergerakan nilai tukar.

"Itu yang Bond Stabilization Fund (BSF), kan. Tapi belum fund semuanya kita aktifkan di instrumen yang kita punya di sini," ungkap Purbaya.

Purbaya menyatakan pihaknya akan turut membantu stabilisasi rupiah bersama Bank Indonesia melalui langkah-langkah terbatas di pasar keuangan.

"Tapi kita akan kendalikan nilai (rupiah). Kita coba membantu nilai tukar. Kita membantu BI lah sedikit-sedikit kalau bisa," ungkap dia.

Baca Juga: Ramai Ajakan Nabung Mata Uang Asing, Efek Rupiah Melemah ke Rp17.500 per Dolar AS

Baca Juga: Warga Indonesia Bersiaplah, Ini Dampak Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS

Di sisi lain, Purbaya juga memastikan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah hingga level Rp17.500 per USD belum memberikan tekanan signifikan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya pada pos subsidi energi.

Asumsi makro yang digunakan dalam perhitungan APBN 2026 telah memperhitungkan skenario nilai tukar yang relatif lebih lemah dibanding kondisi sebelumnya, sehingga ruang fiskal masih dinilai aman.

"Pada waktu kita hitung itu, kita asumsinya sudah di atas APBN rupiahnya. Jadi enggak mungkin, tapi di atas itu nggak jauh. Jadi APBN-ya masih relatif aman," jelasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Cita Auliana
Editor: Dwi Aditya Putra