- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Bukan di Bangka, 'Emas Putih' Paling Dicari AS-Eropa Ternyata Ada di Mamuju
Kredit Foto: PT Timah Tbk
Irwandy mencatat bahwa langkah diplomasi energi tersebut bertujuan untuk mengimbangi dominasi Tiongkok yang saat ini menguasai 91% rantai pasok pemurnian dan pemisahan LTJ global. "Pemerintah melalui Kemenko Marves (saat itu) telah merintis kerja sama dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa, khususnya mengenai mineral kritis," jelas Irwandy, yang pada periode tersebut juga menjabat sebagai staf khusus di Kementerian ESDM.
Kerja sama ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi teknologi pemrosesan yang hingga kini belum dikuasai Indonesia secara komersial. Saat ini, Indonesia baru memiliki proyek percontohan (pilot plant) di Tanjung Ular (Bangka) dan Tanjung Unggat (Kepri), namun belum mencapai skala ekonomi.
Keunggulan Kadar: Mamuju vs Bangka
Secara teknis, deposit primer di Mamuju menawarkan keunggulan kadar (grade) yang jauh lebih tinggi dibandingkan mineral ikutan di wilayah lain. Data menunjukkan kadar total LTJ di Mamuju berada pada rentang 4.500 hingga 6.000 ppm. Sebagai komparasi, kadar LTJ yang teridentifikasi di Bangka Belitung berkisar antara 1.000 hingga 2.391 ppm.
Deposit di Mamuju mengandung unsur-unsur vital seperti Neodimium, Praseodimium, Terbium, dan Disprosium. Unsur-unsur inilah yang menjadi komponen inti dalam pembuatan magnet permanen. Sektor magnet dunia sendiri diproyeksikan akan menyerap 41% konsumsi REE global pada 2034, melonjak dari posisi 29% pada 2023.
Untuk mengeksekusi potensi ini, Pemerintah telah menyiapkan struktur kelembagaan melalui Badan Industri Mineral (BIM) dan merekomendasikan PT Perminas sebagai entitas pengelola izin usaha pertambangan di Mamuju.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: