Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Iran Akui Pasang Ranjau di Selat Hormuz, Kapal Dunia Kini Wajib Izin ke Teheran

Iran Akui Pasang Ranjau di Selat Hormuz, Kapal Dunia Kini Wajib Izin ke Teheran Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Warta Ekonomi, Jakarta -

Abbas Araghchi akhirnya buka suara soal kondisi terbaru di Selat Hormuz, jalur energi paling vital di dunia yang kini berubah jadi kawasan berisiko tinggi.

Dalam pernyataannya, Iran secara terbuka mengakui adanya ranjau dan berbagai rintangan di perairan tersebut. Dampaknya langsung terasa: kapal-kapal yang ingin melintas kini tak lagi bebas, melainkan wajib berkoordinasi dengan militer Teheran.

“Kapal-kapal yang ingin melewati Selat Hormuz jelas harus berkoordinasi dengan militer kami, karena adanya ranjau dan rintangan yang ada,” ujar Araghchi dalam konferensi pers.

Pernyataan ini menandai perubahan besar dalam dinamika global. Jalur yang selama ini menjadi urat nadi pengiriman minyak dan gas dunia kini berada di bawah kontrol ketat Iran—bukan lagi sekadar jalur bebas internasional.

Meski begitu, Iran menegaskan pihaknya tetap akan “membimbing” kapal yang melintas demi memastikan keselamatan navigasi. Praktik ini bahkan disebut sudah diterapkan terhadap sejumlah kapal, termasuk dari India.

Di lapangan, situasi ini bukan sekadar wacana. Data menunjukkan sedikitnya 30 kapal telah berhasil melintasi Selat Hormuz sejak pertengahan Mei di bawah pengawasan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran. Bahkan, kapal-kapal yang terhubung dengan China juga tercatat melewati jalur tersebut melalui koridor yang disebut “aman” oleh Iran.

Namun di balik klaim keamanan itu, risiko tetap membayangi.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang mengalirkan sebagian besar kebutuhan energi dunia. Sejak konflik antara Amerika Serikat dan Iran memanas pada akhir Februari lalu, kawasan ini praktis mengalami gangguan besar, membuat distribusi minyak dan gas global ikut terdampak.

Situasi makin kompleks karena gencatan senjata yang berlaku sejak April belum benar-benar menjamin stabilitas. Meski diperpanjang tanpa batas waktu oleh Donald Trump, tidak ada kesepakatan jangka panjang yang mampu memastikan konflik benar-benar berakhir.

Baca Juga: Iran Izinkan Kapal China Lintasi Selat Hormuz

Artinya, meski tembakan mungkin mereda, ancaman di Selat Hormuz belum benar-benar hilang.

Dengan adanya ranjau, pengawasan militer, dan ketegangan yang belum sepenuhnya reda, jalur energi dunia kini berada dalam kondisi paling rentan dalam beberapa waktu terakhir—dan dunia harus bersiap menghadapi dampaknya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama

Tag Terkait: