Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dari Tragedi ke Simbol Nasional, Museum Marsinah Diresmikan Prabowo Subianto Tanpa Dana Negara

Dari Tragedi ke Simbol Nasional, Museum Marsinah Diresmikan Prabowo Subianto Tanpa Dana Negara Kredit Foto: YouTube Sekretariat Presiden
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nama Marsinah kembali diangkat ke panggung nasional. Bukan lewat demonstrasi atau peringatan tahunan, melainkan melalui sebuah museum yang kini berdiri di tanah kelahirannya di Nganjuk, Jawa Timur, merekam ulang jejak perjuangan buruh yang pernah mengguncang Indonesia.

Museum ini dijadwalkan diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, sebuah momen yang dipandang sebagai bentuk pengakuan negara terhadap simbol perlawanan buruh yang selama ini hidup dalam ingatan kolektif.

Berbeda dari banyak proyek seremonial lainnya, pembangunan museum ini tidak menggunakan anggaran negara. Inisiatif tersebut sepenuhnya digerakkan oleh Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), yang menyebut proyek ini sebagai bentuk kesadaran kolektif, bukan program pemerintah.

“Ini adalah bentuk kesadaran penuh karena Ibu Marsinah adalah bagian dari kami,” ujar Presiden KSPSI, Andi Gani Nena Wea.

Di dalam museum, kisah Marsinah tidak hanya diceritakan tetapi dihadirkan kembali secara nyata. Mulai dari pakaian terakhir yang dikenakan sebelum meninggal, tas yang ia bawa, hingga kliping koran yang merekam tragedi pembunuhannya dan proses hukum yang mengikutinya.

Pengunjung juga akan menemukan diorama kondisi buruh pada era 1990-an, termasuk rekaman sejarah tentang tekanan yang dialami para pekerja saat itu. Semua dirancang untuk menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar melihat, melainkan merasakan.

Yang membuatnya semakin kuat secara simbolik, museum ini dibangun tepat di lokasi yang diyakini sebagai tempat ari-ari Marsinah ditanam, bersebelahan dengan rumah masa kecilnya. Detail ini menambah dimensi emosional yang jarang ditemukan dalam ruang-ruang memorial lain.

Baca Juga: Prabowo Tegaskan Ribuan Triliun Harus Diselamatkan Demi 287 Juta Rakyat

Dengan pendekatan tersebut, museum ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat arsip sejarah, tetapi juga sebagai ruang refleksi tentang relasi kekuasaan, perjuangan buruh, dan harga yang pernah dibayar untuk perubahan.

Peresmian museum ini diperkirakan akan dihadiri ribuan buruh dari berbagai daerah, menandai bahwa sosok Marsinah masih hidup dalam kesadaran kolektif gerakan pekerja Indonesia.

Setelah resmi dibuka, museum ini akan dapat diakses publik secara gratis—membuka ruang bagi generasi baru untuk mengenal kembali cerita yang pernah membentuk arah perjuangan buruh di Indonesia.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama