Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

PT Bumibaru Buktikan Lahan Terdegradasi Bisa Jadi Sumber Perkebunan Produktif

PT Bumibaru Buktikan Lahan Terdegradasi Bisa Jadi Sumber Perkebunan Produktif Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Indonesia menyimpan potensi lahan yang belum banyak diperbincangkan. Bukan lahan subur baru, karena itu memang sudah semakin langka. Yang ada adalah puluhan juta hektar lahan terdegradasi dari berbagai sumber: bekas operasi tambang yang sudah direklamasi, kawasan eks-perhutanan yang tidak lagi produktif, dan perkebunan lama yang sudah melewati siklus produktifnya. Sebagian besar dari lahan ini diam begitu saja, tidak menghasilkan apapun, padahal potensinya untuk menjadi perkebunan produktif sudah ada di depan mata.

Ini bukan soal kegagalan regulasi semata. Reklamasi lahan, misalnya, memang tidak pernah dirancang untuk menciptakan nilai ekonomi. Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2010 tentang reklamasi dan pascatambang, kewajiban perusahaan mencakup pemulihan fungsi ekologi lahan. Standar keberhasilannya adalah kepatuhan lingkungan, bukan produktivitas. Ketika standar itu terpenuhi, tidak ada insentif sistemik untuk melanjutkan ke tahap pengembangan. 

Hal yang kurang lebih sama berlaku untuk kawasan eks-perhutanan dan perkebunan tua: ketika siklus operasional selesai, lahan sering ditinggalkan tanpa rencana aktivasi yang jelas.

Hasilnya adalah gap yang mahal. Bagi pemegang lahan, ada biaya perawatan tanpa pendapatan yang terus berjalan. Bagi investor yang mencari aset berbasis lahan, ada aset potensial yang tidak pernah diaktivasi. Bagi agri corporates yang bergerak di sektor sawit, kopi, dan kakao, ada kebutuhan sumber lahan produktif baru yang tidak terpenuhi di tengah kelangkaan lahan subur.

Dalam keterangan tertulisnya, Jumat (6/6), PT Bumibaru Indonesia Jaya mencatat telah mendokumentasikan salah satu pendekatan untuk menutup kesenjangan tersebut. Dalam Annual Report 2025, perusahaan melaporkan hasil pilot project di Kalimantan Tengah yang menghasilkan lebih dari 307.000 kilogram pisang kepok, nanas madu, dan semangka dari lahan dengan kandungan pasir mencapai 94 persen.

"Biaya pengembangannya masih berada pada kisaran yang sebanding dengan dana jaminan reklamasi yang umumnya disetorkan perusahaan perkebunan sawit. Namun, nilai tambah (value uplift) yang dihasilkan terukur dan melampaui biaya pengembangan awal," demikian keterangan resmi perusahaan.

Dengan menggunakan pendekatan perbaikan kimia tanah dan pertanian regeneratif, Bumibaru membuktikan bahwa lahan terdegradasi dari berbagai tipologi, termasuk lahan pascatambang, eks-perhutanan, maupun bekas perkebunan yang sudah tidak produktif, dapat diaktivasi menjadi aset perkebunan yang viable. 

Diakhir keterangannya dikatakan, untuk pengembangan lebih ekspansif  PT Bumibaru Indonesia Jaya terbuka untuk melakukan kolaborasi kemitraan bagi investor dan agri corporates melalui LinkedIn: Bumi Baru, atau melalui bumibaru.co.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Sufri Yuliardi
Editor: Sufri Yuliardi

Berita Terkait