Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Media Asing Nilai Indonesia Sedang Berada di Jalur Bahaya

Media Asing Nilai Indonesia Sedang Berada di Jalur Bahaya Kredit Foto: Antara
Warta Ekonomi, Jakarta -

Jagat maya kembali ramai setelah majalah internasional asal Inggris The Economist merilis artikel terbaru berjudul “Indonesia is on a risky path”.

Artikel tersebut menyoroti kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai sedang menggerus fondasi ekonomi dan demokrasi Indonesia.

Akun X @karirfess menuliskan bahwa kritik ini bukan yang pertama kali dilayangkan media asing terhadap Indonesia. Dalam cuitannya, ia merangkum poin-poin utama dari artikel tersebut.

Pertama, Prabowo Subianto disebut sedang mengikis fondasi ekonomi dan demokrasi yang telah dibangun selama lebih dari 20 tahun Reformasi.

"Risiko Fiskal Besar: Pemerintah menggelontorkan anggaran sangat besar untuk program populis (terutama makan siang gratis dan koperasi pertanian di 80.000 desa), sehingga defisit anggaran mendekati batas maksimal 3% PDB," tilisnya, dikutip Senin (18/5).

Selain itu, artikel tersebut juga menyoroti tekanan eksternal yang muncul dari kenaikan harga energi global akibat konflik di Timur Tengah. Kondisi ini membuat subsidi BBM dan listrik semakin mahal, ditambah pelemahan rupiah yang memperburuk situasi.

Tak hanya itu, Prabowo dinilai memusatkan kekuasaan, melemahkan oposisi, mengembalikan peran militer yang lebih besar, serta mengelilingi diri dengan orang-orang yang suka menyanjung.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Publik Desak Prabowo Akui Masalah Ekonomi

Baca Juga: The Economist Sentil Prabowo: Berkulit Tipis, Tak Siap Fakta Pahit

Lebih lanjut, gaya kepemimpinan yang mudah berubah dan sensitif terhadap kritik disebut membuat investor dan sekutu khawatir.

“Kesimpulan dari Economist: Tanpa perubahan arah, Indonesia berisiko membalikkan kemajuan demokrasi dan stabilitas ekonomi yang sudah dicapai sejak era Suharto jatuh. Negara Muslim terbesar di dunia ini sedang berada di jalur berbahaya,” tandasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya