DPR Curiga Rupiah Sengaja Dibiarkan Melemah, Begini Jawaban Bos BI
Kredit Foto: Ist
Pelemahan rupiah yang terus menekan pasar keuangan nasional memunculkan sorotan tajam dari DPR RI. Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun bahkan mencurigai nilai tukar rupiah sengaja dibiarkan melemah di tengah melonjaknya penerimaan Bank Indonesia (BI).
Kecurigaan itu disampaikan Misbakhun dalam rapat kerja Komisi XI DPR RI bersama BI di Jakarta, Senin (18/5) kemarin. Ia menyoroti realisasi penerimaan anggaran operasional BI hingga kuartal IV 2025 yang melonjak drastis.
"212 persen dari target Rp31 triliun mencapai Rp66 triliun. Ini kan menjadi pertanyaan kita," kata Misbakhun, dikutip Selasa (19/5).
Menurutnya, lonjakan penerimaan tersebut terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Karena itu, ia mempertanyakan apakah kondisi rupiah sengaja dibiarkan tertekan demi meningkatkan penerimaan bank sentral.
"Apakah rupiah ini dibiarkan melemah supaya penerimaannya BI besar? Ini kinerja 2025," tanya Misbakhun.
Baca Juga: Rupiah Jebol Lagi ke Rekor Terlemah, Purbaya: Nggak Apa-apa...
Menanggapi tudingan tersebut, Gubernur BI Perry Warjiyo membantah keras bahwa bank sentral mencari keuntungan dari pelemahan rupiah.
Menurut Perry, seluruh penerimaan maupun surplus yang diperoleh BI tetap dikembalikan kepada negara sehingga tidak ada kepentingan untuk membiarkan rupiah terus melemah.
"Kalau penerimaan tadi, jangan kami dinilai karena ingin kami menaikkan. Pajak kami bayar, surplus kami kembalikan, jadi penerimaan itu juga kembali kepada negara," ungkap Perry.
Ia juga memastikan setiap kebijakan yang diambil Bank Indonesia selalu mempertimbangkan dampak nasional secara menyeluruh.
"Kami pertimbangkan bagaimana benefit and cost secara nasional," lanjutnya.
Di tengah tekanan terhadap rupiah, Perry pun tetap optimistis nilai tukar mata uang Indonesia akan kembali menguat dalam beberapa bulan mendatang. Ia menilai pelemahan yang terjadi saat ini hanya bersifat sementara akibat kombinasi faktor global dan kebutuhan musiman valuta asing.
“Kami meyakini nanti kami sampaikan langkah-langkahnya lagi sehingga kami meyakini nanti Juli Agustus akan menguat,” kata Perry.
Baca Juga: Rupiah Melemah Hingga Rp17.710 per Dolar AS Pagi Ini
Perry menjelaskan periode April hingga Juni memang biasanya terjadi lonjakan permintaan devisa karena sejumlah kebutuhan besar seperti pembayaran utang, dividen, hingga keberangkatan jemaah haji.
“Karena April, May, Juni ini ada demand untuk divisa itu besar, untuk biasanya ada kemarin ada jemaah haji, terus kemudian pembayaran dividen, dan juga pembayaran utang, seperti itu ya, jadi itu faktor-faktor seasonal,” imbuhnya.
Menurut Perry, kondisi rupiah saat ini bahkan berada pada level undervalue atau lebih rendah dibanding nilai fundamental ekonomi Indonesia yang sebenarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: