Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Tembus Rp17.744, Timothy Ronald Kasih Tips 'Survival' Amankan Uang

Rupiah Tembus Rp17.744, Timothy Ronald Kasih Tips 'Survival' Amankan Uang Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencetak rekor terbaru dengan menyentuh level Rp17.744 per Selasa, (19/5/2026).

Meskipun Pemerintah sudah menyatakan keadaan terkendali, penguatan dolar yang ekstrem ini memicu kekhawatiran pada dampak luas terhadap perekonomian nasional, khususnya bagi daya beli masyarakat dan gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Investor dan influencer finansial, Timothy Ronald, lewat unggahan dan akun Youtube resminya mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah bukanlah fenomena baru, melainkan pola berulang dalam sejarah moneter Indonesia. 

Ia mengajak masyarakat untuk belajar dari masa lalu agar bisa menyusun strategi "survival" di tengah krisis.

Timothy memperingatkan bahwa persepsi negatif investor asing yang menyebabkan capital outflow bukanlah pihak yang paling terdampak. Menurutnya, rakyat kecil adalah yang paling menderita dalam situasi ini.

"Kenapa? Karena bahan farmasi, tekstil, hingga otomotif masih banyak mengimpor bahan baku. Ketika usaha turun, yang pertama terjadi adalah gelombang PHK. Ketika PHK terjadi, daya beli menurun, dan harga spare part serta kebutuhan pokok akan naik semuanya," jelas Timothy.

Ia mencontohkan bahwa ketika dolar menguat terlalu jauh, industri yang bergantung pada impor akan tergerus, memaksa perusahaan melakukan efisiensi dengan memangkas tenaga kerja.

Timothy memaparkan perjalanan kelam mata uang Indonesia sejak masa kemerdekaan. Dimulai dari devaluasi Oeang Republik Indonesia (ORI) di tahun 1946 yang mencapai 29,12%, hingga kebijakan kontroversial "Gunting Syarifuddin" di tahun 1950 yang memotong nilai uang secara fisik hingga setengahnya, yang kemudian memicu hiperinflasi.

"Pada Agustus 1959, uang Rp500 diturunkan jadi Rp50, dan Rp1.000 jadi Rp100. Dari kurs resmi Rp1,40 per dolar berubah jadi Rp45 per dolar. Itu ekstrem," ujarnya.

Puncaknya terjadi pada krisis moneter 1997-1998 di mana rupiah anjlok dari Rp2.380 menjadi Rp14.150, bahkan sempat menyentuh Rp16.800. Saat itu, utang luar negeri swasta membengkak hingga USD 138 miliar, sementara cadangan devisa hanya USD 14,44 miliar. 

"Bank kolaps, perusahaan bangkrut, dan PHK puluhan ribu karyawan terjadi dalam sebulan," kenangnya.

Dari sejarah panjang tersebut, Timothy menarik sebuah pola atau pattern yang selalu muncul saat krisis melanda Indonesia:

Penguatan dolar (masalah eksternal/geopolitik).

Defisit anggaran.

Utang luar negeri yang membengkak.

Cadangan devisa yang tipis.

Harga pangan naik.

"Jika lima indikator ini terpenuhi, itu adalah gambaran masa lalu yang selalu sama. Indonesia akan mengalami krisis," tegasnya.

Salah satu poin paling kontroversial yang disampaikan Timothy adalah tentang gaya pengelolaan keuangan masyarakat. Ia menyebut bahwa dalam kurun waktu 77 tahun, nilai rupiah telah hilang hingga 99,9978% dari kurs awalnya (Rp3,80 menjadi Rp17.600).

"Kalau orang bilang nabung itu pangkal kaya, itu salah. Nabung itu pangkal miskin. Lu harus beli aset. Uang kertas itu fana karena nilainya hilang hampir 100%," tegasnya.

Ia mengkritik kebiasaan masyarakat yang hanya menyimpan uang tunai (cash) tanpa berinvestasi pada aset yang nilainya tahan terhadap inflasi. Ia juga menyoroti bahwa generasi muda saat ini kesulitan membeli properti karena generasi sebelumnya (baby boomer) menimbun tanah sebagai investasi, menyebabkan harga properti stagnan sejak 2013.

Baca Juga: Rupiah dan Yen Jepang Keok Lawan Dolar AS

Menghadapi pelemahan rupiah yang diprediksi akan terus berlanjut hingga menyentuh Rp20.000 di tahun 2030, Timothy merekomendasikan dua instrumen investasi untuk melindungi kekayaan:

Emas.

"Selama 5.000 tahun, emas tidak pernah jadi nol. Tidak bisa dicetak oleh pemerintah, volatilitas rendah, dan mempertahankan nilai (hold value)."

Bitcoin.

Meski kerap dianggap spekulatif atau judi di Indonesia, Timothy menyebut Bitcoin sebagai "aset digital dengan suplai terbatas (hanya 21 juta koin) dan return historis tertinggi dalam 15 tahun terakhir".

 Ia menyebut negara seperti Uni Emirat Arab, Swiss, hingga Hong Kong telah mengadopsinya sebagai instrumen lindung nilai, mirip dengan emas.

"Jangan simpan cash saat krisis. Bukan seberapa banyak uang yang bisa kamu cari, tapi seberapa banyak uang yang bisa kamu pertahankan," pungkas Timothy, mengajak generasi muda untuk lebih melek teknologi dan sistem keuangan global.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Amry Nur Hidayat

Tag Terkait: