Dalang Pelemahan Rupiah dan IHSG, Ini Kunci Baliknya Kepercayaan Investor ke Indonesia
Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun menilai peran para pengambil kebijakan atau policy maker menjadi faktor kunci untuk mengembalikan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Pernyataan itu disampaikan menyusul mulai berkurangnya kepemilikan investor asing di berbagai instrumen investasi domestik yang ditandai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar rupiah, hingga pasar obligasi.
Baca Juga: Ada Pelemahan Rupiah dan Saham IHSG di Balik Pidato Prabowo? Begini Kata DPR
Menurut Misbakhun, situasi ketidakpastian ekonomi global saat ini merupakan kondisi yang tidak bisa dihindari, terutama akibat tensi geopolitik internasional yang terus berubah.
“Ketidakpastian di dalam ekonomi adalah sebuah keniscayaan. Apalagi situasi geopolitik saat ini juga memberikan sebuah indikator-indikator,” kata Misbakhun, Rabu (20/5/2026).
Ia mencontohkan dinamika konflik di Timur Tengah yang melibatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Iran sebagai salah satu faktor yang memicu gejolak pasar global.
“Bayangkan hari ini Trump membicarakan soal gencatan senjata, Iran yang tidak mau, Iran mau gencatan senjata, Trump-nya tidak mau. Tidak ada yang bisa memastikan situasi ketidakpastian itu di dalam ekonomi,” ujarnya.
Misbakhun menegaskan, tantangan utama pemerintah dan otoritas ekonomi saat ini bukan menghilangkan ketidakpastian, melainkan mengelolanya dengan baik agar dampaknya terhadap pasar dan investor dapat diminimalkan.
“Tinggal bagaimana para policy maker di sektor keuangan, di ekonomi dan sebagainya mulai paham bahwa ketidakpastian ini harus dimanage dengan baik,” katanya.
Menurutnya, pengelolaan risiko harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari antisipasi jangka pendek hingga menengah, agar pasar memiliki kepastian arah kebijakan.
“Termasuk risikonya, peluangnya, dan kemudian hal-hal yang harus diantisipasi secara jangka pendek dan jangka menengah,” lanjut Misbakhun.
Ia mengakui bahwa proyeksi jangka panjang masih sulit dipastikan karena kondisi global yang berubah sangat cepat.
“Karena kalau secara jangka panjang kita belum bisa memastikan semua,” tuturnya.
Baca Juga: Pidato Prabowo Bakal Jadi Tradisi Baru Ketatanegaraan Indonesia, Begini Kata DPR
Dalam beberapa pekan terakhir, pasar keuangan Indonesia memang berada di bawah tekanan. Rupiah terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sementara IHSG bergerak fluktuatif di tengah aksi jual investor asing dan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar