Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Heboh Rupiah Sengaja Dilemahkan, Akademisi: Keliatan Sekali Nggak Ngerti Ekonomi

Heboh Rupiah Sengaja Dilemahkan, Akademisi: Keliatan Sekali Nggak Ngerti Ekonomi Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso

“Nah, jadi kalau strategi pelemahan mata uang rupiah itu sebagai strategi untuk menguasai pasar internasional, ada syaratnya. Syaratnya cadangan devisa kita harus besar, surplus perdagangan kita sudah besar,” katanya.

Ia juga menyoroti langkah Bank Indonesia yang terus melakukan intervensi demi menahan tekanan terhadap rupiah dalam beberapa bulan terakhir. Menurutnya, tindakan itu justru membuktikan pelemahan rupiah bukan bagian dari strategi pemerintah.

“Kan sering kita lihat tuh, hari Jumat harganya udah 16.800, ditahan oleh BI menjadi 16.600. Hari Senin udah naik lagi di atas 17.000. Begitu, akhirnya BI harus gelontorkan lagi, gelontorkan lagi. Setiap bulan, 2 sampai 3 miliar USD,” ujarnya.

Selain itu, Rhenald menilai narasi bahwa rupiah sengaja dilemahkan juga bertentangan dengan pernyataan pemerintah sendiri. Ia menyinggung pernyataan Ketua Dewan Ekonomi Nasional Purbaya Yudhi Sadewa yang pernah menyebut rupiah bisa kembali ke level Rp15 ribu per dolar AS.

Ia juga mengingat pidato Presiden Prabowo Subianto yang menyebut asumsi kurs rupiah berada di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS.

Baca Juga: Rupiah Jebol Lagi ke Rekor Terlemah, Purbaya: Nggak Apa-apa...

Menurut Rhenald, kondisi Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada impor, mulai dari bahan mentah hingga bahan baku industri. Karena itu, pelemahan rupiah justru dapat menambah tekanan terhadap biaya produksi dan ekonomi nasional.

Di akhir pernyataannya, Rhenald meminta para influencer lebih berhati-hati ketika membahas isu ekonomi karena masyarakat kini semakin kritis dalam menyerap informasi.

“Jadi bagi mereka yang ngomong sebagai influencer, agak berhati-hati, masyarakat kita semakin pandai dan ekonomi tidak bisa dilihat sepotong-potong,” katanya.

Halaman:

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri

Tag Terkait: