Ketua Komisi XIII DPR: Kenapa Anak-Anak Kita Enggak Mau Jadi Penulis? Karena Enggak Ada Uangnya
Kredit Foto: Unsplash/Lala Azizli
Ketua Komisi XIII DPR RI, Willy Aditya, mendorong penghapusan pajak kertas dan pajak penulis hingga nol persen dalam revisi Undang-Undang (UU) Sistem Perbukuan.
Langkah strategis ini dinilai krusial untuk menekan harga buku yang tinggi di pasaran sekaligus memperkuat ekosistem literasi nasional.
Ia menambahkan revisi UU Sistem Perbukuan tersebut saat ini telah resmi masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) dan menjadi salah satu agenda prioritas yang tengah diperjuangkan oleh Komisi XIII DPR RI.
"Salah satu yang diperjuangkan dalam revisi UU tersebut yakni pajak kertas dan pajak penulis Rp0. Revisi UU Sistem Perbukuan ini menjadi prioritas saya karena dari dulu saya mendapatkan uang dari menulis," ujar Willy dalam diskusi bersama Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Menurut Willy, revisi regulasi ini bertujuan untuk menghapus stigma lama yang menempatkan buku sebagai barang mewah. Dengan hilangnya beban pajak tersebut, akses terhadap ilmu pengetahuan diharapkan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
"Jika suatu bangsa menjadikan buku sebagai barang mewah, maka pengetahuan adalah suatu hak yang istimewa. Ketika pengetahuan menjadi hak istimewa, maka berpikir kritis itu menjadi suatu hal yang elitis. Jadi, kita sedang menata dari hulu ke hilir," papar legislator dari Fraksi Partai NasDem tersebut.
Selain pembebasan pajak, draf revisi UU Sistem Perbukuan juga menggodok sejumlah poin penting lainnya untuk mendukung industri kreatif ini, antara lain:
- Subsidi biaya logistik untuk kelancaran distribusi buku ke daerah terpencil.
- Penguatan penegakan hukum terkait perlindungan hak cipta.
- Pemberian dukungan insentif bagi penerbit independen agar lebih kompetitif.
Willy menilai transformasi ekosistem perbukuan sudah sangat mendesak. Kondisi industri saat ini dinilai kurang ramah secara finansial, sehingga jarang ada generasi muda yang bercita-cita menjadi penulis profesional.
"Mengapa anak-anak kita tidak ada yang berpikir menjadi penulis? Karena tidak ada uangnya. Oleh karena itu, ekosistem perbukuan ini harus bertransformasi. Musik dan film saja bisa, mengapa buku tidak?" tegasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: