- Home
- /
- EkBis
- /
- Agribisnis
Alarm Krisis FAO Berbunyi, Indonesia Ambil Kuda-Kuda Jadi Lumbung Pangan Dunia
Kredit Foto: Antara/Galih Pradipta
Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia atau Food and Agriculture Organization membunyikan alarm ancaman krisis pangan global akibat eskalasi geopolitik. Merespons peringatan ini, Pemerintah Indonesia justru mengambil langkah agresif. Berbekal surplus produksi dan stok cadangan tertinggi sepanjang sejarah, Indonesia membidik peluang ekspansi menjadi pemasok pangan dunia.
Sebelumnya, Kepala Ekonom FAO, Máximo Torero, memperingatkan bahwa gangguan jalur perdagangan internasional, seperti potensi penutupan Selat Hormuz, dapat memicu guncangan sistemik pada sektor pangan global. Ia mendesak setiap negara segera meningkatkan kapasitas pangannya.
Menepis kekhawatiran global tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjamin ketahanan pangan domestik sangat kokoh dan mampu menghadapi gejolak iklim maupun geopolitik.
“Pangan kita siap menghadapi kondisi terburuk. Produksi beras kita berkisar 2,6 sampai 5,7 juta ton per bulan, jauh di atas kebutuhan konsumsi yang hanya 2,5 juta ton. Pangan aman, masyarakat tidak perlu risau,” tegas Amran dalam keterangan pers Kementan, Jumat (22/5/2026).
Melihat surplus ini, Amran mendorong Indonesia berani mengambil peran lebih luas di pasar global.
“Jika stok dalam negeri kuat, kita tidak hanya menjaga diri sendiri, tetapi harus siap membantu negara sahabat dan mengambil peran lebih besar,” tambahnya.
Optimisme pemerintah ditopang oleh fundamental data yang solid. Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mencatat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Perum Bulog per 18 Mei 2026 menembus 5,37 juta ton. Angka ini menjadi rekor cadangan tertinggi dalam sejarah Indonesia modern.
Pemerintah pun mulai merealisasikan pembukaan pasar baru. Indonesia telah mengekspor 2.280 ton beras premium senilai Rp38 miliar ke Arab Saudi untuk pasokan jemaah haji, serta mengirimkan 10 ribu ton bantuan beras ke Palestina.
“Stok kita melimpah. Ke depan, kita menargetkan beras RI tidak hanya dikonsumsi jemaah kita, tetapi juga jemaah negara lain. Namun, semua ekspor tetap kami hitung cermat agar pasar dalam negeri tidak terganggu,” jelas Sudaryono.
Transisi Indonesia menjadi pemasok global didukung oleh rekam jejak impresif. Sepanjang 2025, Indonesia berhasil mencetak surplus beras 3,5 juta ton tanpa membuka keran impor beras medium.
Baca Juga: Hore! Pemerintah Perpanjang Bantuan Pangan hingga Juni 2026
Baca Juga: Surplus Beras Hampir 4 Juta Ton, Pemerintah Sikat Mafia Pangan Demi Margin Petani
Proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026 juga dinilai semakin menjanjikan. Delapan dari sebelas komoditas strategis dipastikan mandiri tanpa impor, meliputi beras, jagung, bawang merah, aneka cabai, daging dan telur ayam ras, hingga gula konsumsi. Bahkan, impor jagung pakan telah dihentikan total sejak tahun lalu.
Di sisi operasional, pemerintah berhasil memangkas biaya produksi pertanian dengan menurunkan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi sebesar 20%. Sementara di sektor energi makro, implementasi mandatori Biodiesel B50 per 1 Juli 2026 ditargetkan mampu mengamankan devisa negara hingga Rp157,28 triliun.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: