Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Wamenkeu Juda Sebut Tidak Ada Tanda-Tanda Krisis Ekonomi di Indonesia

Wamenkeu Juda Sebut Tidak Ada Tanda-Tanda Krisis Ekonomi di Indonesia Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, menegaskan kondisi ekonomi nasional saat ini jauh dari situasi krisis. Hal itu disampaikan saat memaparkan indikator-indikator ekonomi terkini yang dinilai masih menunjukkan fundamental kuat.

Juda memaparkan sampai dengan April 2026, pendapatan negara mencapai Rp918 triliun atau tumbuh 13,3%. Di mana pajak sendiri itu tumbuh 16,1%. Sementara belanja negara tumbuh 34,3%. 

Di tengah belanja yang cukup tinggi, kata Juda, defisit juga masih terkendali di 0,64% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Posisi defisit ini mengalami penurunan Maret sebelumnya yang mencapai 0,92%.

"Kalau ngelihat angka-angka tadi jauh dari situasi krisis," kata Juda dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah, di Balai Kartini, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Menurut Juda, pengalaman berbagai negara menunjukkan krisis ekonomi umumnya bersumber dari tiga faktor utama, yakni krisis fiskal, krisis neraca pembayaran, dan krisis sistem keuangan. Namun hingga saat ini, ketiga indikator tersebut belum terlihat dalam perekonomian Indonesia.

Ia mencontohkan krisis fiskal yang pernah melanda negara-negara Amerika Latin pada 1980-an akibat defisit anggaran yang membengkak dan hilangnya kepercayaan investor terhadap pemerintah.

"Di Indonesia sekarang ini, defisit relatif terbatas, masih dijaga di bawah 3% dan pembiayaan fiskal kita masih sangat dipercaya oleh investor,: kata Juda.

Kepercayaan investor tersebut, lanjut dia, tercermin dari imbal hasil (yield) surat utang pemerintah yang masih stabil di kisaran 6,5–6,7% dan belum menunjukkan lonjakan signifikan.

Baca Juga: Jangan Salah Paham, Ini Arti Krisis Ekonomi yang Sebenarnya

Baca Juga: Cara Menghadapi Krisis Ekonomi ala Warren Buffett Biar Gak Boncos

Selain itu, Juda menilai kondisi neraca pembayaran Indonesia juga masih sehat dan seimbang. Berbeda dengan krisis 1997–1998, saat banyak perusahaan bergantung pada utang luar negeri sehingga rentan ketika terjadi pelemahan nilai tukar dan penghentian arus modal mendadak (sudden stop).

“Saat ini kalau kita lihat angka-angka neraca pembayaran kita relatif sehat dan relatif balanced,” katanya.

Dari sisi sistem keuangan, Juda juga memastikan belum terdapat indikasi terbentuknya gelembung ekonomi (bubble) seperti yang memicu krisis global 2008 di Amerika Serikat, terutama di sektor properti dan pembiayaan.

“Tanda-tanda itu tidak ada juga di kita. Jadi tiga sumber krisis itu tidak ada di dalam data-data yang kita amati sampai dengan hari ini,” tutur Juda.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Dwi Aditya Putra