Kredit Foto: Istimewa
Menurut Febri, penggunaan LCT dapat membantu menekan biaya impor sehingga lebih efisien. Karena itu, ia mendorong pelaku usaha untuk mulai mempertimbangkan skema tersebut dalam kerja sama perdagangan.
“Strategi ke depan kita akan coba mengimbau industri untuk tetap menggunakan fasilitas LCT Bank Indonesia. Jadi, pembelian bahan baku oleh industri atau importir itu tidak menggunakan dolar, tapi menggunakan mata uang lokal,” katanya.
Ia juga menambahkan, perusahaan yang menggunakan skema LCT berpotensi memperoleh harga bahan baku yang lebih kompetitif dibandingkan transaksi konvensional berbasis dolar.
Selain itu, Kemenperin mengingatkan pentingnya diversifikasi sumber bahan baku agar industri tidak terlalu bergantung pada satu negara pemasok. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan di tengah ketidakpastian global.
“Kami mengimbau industri dalam negeri yang biasanya memakai bahan baku impor, bisa dilihat alternatif sumber-sumber bahan baku, diversifikasi dari negara yang lain,” ucapnya.
Baca Juga: Hadapi Tantangan Geopolitik, Indonesia Perkuat Kolaborasi Untuk Jaga Ketahanan Energi Nasional
Lebih jauh, pemerintah juga melihat kondisi pelemahan rupiah sebagai momentum untuk memperkuat industri hulu di dalam negeri. Investasi untuk produksi bahan baku substitusi impor dinilai perlu didorong agar ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi.
Febri menegaskan, hampir seluruh sektor industri saat ini terdampak oleh kenaikan biaya produksi akibat depresiasi rupiah. Hal ini membuat pelaku usaha harus menyeimbangkan antara biaya produksi dan harga jual produk di pasar.
“Semua (industri) mengeluh nilai tukar naik, harga bahan baku juga naik dan akan membebani biaya produksi,” tutupnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: