Kredit Foto: Istimewa
Berkat teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang terus berkembang, kini dunia usaha mulai memasuki fase baru yang lebih canggih, yaitu autonomous business. Berbeda dengan digitalisasi konvensional yang hanya berfokus pada otomasi proses, autonomous business mengarah pada perusahaan yang mampu mengambil keputusan, menjalankan tindakan, dan menciptakan nilai baru secara lebih mandiri.
Sederhananya, digitalisasi konvensional memindahkan proses manual ke sistem digital, tapi tetap membutuhkan campur tangan manusia untuk mengambil keputusan. Sistem hanya menyajikan data atau laporan, sedangkan tetap manusia yang menganalisis untuk mengambil tindakan selanjutnya. Sementara autonomous business mampu menganalisis data secara real-time, memprediksi tren, dan mengambil keputusan secara mandiri tanpa perlu melibatkan manusia lagi.
Dalam acara Digital & Security Forum 2026 bertema “AI-Driven Enterprise: AIOps & Intelligent Security for the Autonomous Era” yang berlangsung di Bali pada Kamis (21/5), Senior Vice President Multipolar Technology Achmad Fakhrudin mencontohkan, di dunia ritel, autonomous business memprediksi stok barang yang akan habis saat musim promosi dan langsung melakukan pengadaan secara mandiri.
Di industri keuangan, sistem autonomous business dapat mendeteksi hingga memblokir transaksi jika terjadi anomali yang tak biasa tanpa perlu menunggu keputusan manusia. Di ranah operasional TI, sistem bisa mendeteksi aplikasi yang melambat dan menemukan penyebabnya, lalu melakukan remediasi secara otomatis. ”Secara keseluruhan, autonomous business mengubah perusahaan dari yang awalnya bersifat reaktif (menunggu perintah atau kejadian) menjadi antisipatif dan proaktif,” katanya.
Karena diyakini mampu meningkatkan daya saing sekaligus efisiensi dalam waktu yang bersamaan, autonomous business diperkirakan akan menjadi “primadona baru” bagi perusahaan. Jika merujuk pada hasil survei perusahaan riset dan konsultasi bisnis Gartner, 80% CEO global memperkirakan AI akan memaksa perubahan tingkat menengah hingga tinggi terhadap kemampuan operasional mereka, menggeser fokus dari digital business ke autonomous business.
Dalam pengimplementasiannya, autonomous business mesti dimulai dari visibilitas yang kuat terhadap keseluruhan operasional perusahaan. Perusahaan harus memahami kondisi sistem secara menyeluruh, mulai dari performa layanan, kemampuan skalabilitas, tingkat keandalan, ketahanan infrastruktur, hingga aspek keamanan. Tanpa visibilitas yang memadai, perusahaan akan sulit membangun sistem yang mampu merespons perubahan secara otomatis.
Dampak Nyata
Penggunaan autonomous business bukan sekadar pembaruan sistem teknologi, melainkan juga berkaitan langsung dengan performa perusahaan: pengalaman pelanggan yang berdampak pada tingkat konversi, kepuasan pengguna, dan pendapatan perusahaan. Skalabilitas yang dapat ditingkatkan menentukan kemampuan sistem untuk berkembang mengikuti lonjakan kebutuhan bisnis. Pada saat yang sama, reliabilitas dan resiliensi berperan dalam menjaga konsistensi layanan.
Lebih lanjut Achmad menjelaskan, keamanan juga menjadi komponen yang tak terpisahkan dari autonomous business. Semakin besar tingkat digitalisasi perusahaan, semakin tinggi pula eksposur terhadap ancaman siber, risiko kepatuhan, potensi kebocoran data, hingga dampaknya terhadap reputasi perusahaan. “Oleh karena itu, penerapan sistem autonomous business harus dibangun di atas fondasi keamanan yang kuat dan berkelanjutan,” katanya.
Implementasi autonomous business membutuhkan dukungan platform AIOps yang mampu mengintegrasikan berbagai elemen infrastruktur teknologi informasi, termasuk bare metal, virtual machine, aplikasi, sistem operasi, cloud, database, keamanan, hingga backup and recovery tools. Integrasi ini memungkinkan pemanfaatan machine learning, otomatisasi tiket, serta dukungan large language model (LLM) untuk menghasilkan respons yang lebih cerdas dan terkoordinasi.
Ke depan, autonomous business diperkirakan akan menjadi fondasi utama bagi perusahaan yang ingin membangun AI-driven enterprise. Dengan memanfaatkan observabilitas, AIOps, dan kemampuan self-healing, perusahaan tidak hanya bereaksi terhadap masalah, tetapi juga mampu memprediksi, mengantisipasi, dan memperbaiki gangguan secara otomatis. Dengan begitu, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat keamanan, dan menciptakan pengalaman pelanggan yang lebih baik sekaligus.
“Banyak solusi yang mendukung pengimplementasian autonomous business. Namun, untuk menentukan solusi yang paling tepat dan mengimplementasikannya ke dalam sistem bisnis perusahaan dengan baik, tidak mudah. Maka, sebelum mengaplikasikannya ke dalam sistem bisnis, ada baiknya tim TI perusahaan Anda menghubungi Multipolar Technology. Sebagai perusahaan solution integrator yang berpengalaman, kami siap membantu,” ungkap Achmad.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Redaksi