Harapan Damai Goyah, Iran Sebut AS Tak Bisa Dipercaya: Kesepakatan Apapun akan Ditolak
Kredit Foto: ChatGPT/Al Musthafa Gustar's
Harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran kembali menghadapi hambatan serius. Di saat negosiasi disebut semakin mendekati titik krusial, Teheran justru melontarkan peringatan keras dan menegaskan tidak akan menandatangani kesepakatan apa pun sebelum hak-haknya benar-benar dijamin.
Pernyataan tegas itu disampaikan Kepala Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, pada Minggu (31/5), menyusul munculnya laporan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengirimkan proposal perdamaian baru yang dinilai lebih keras kepada Iran.
Menurut Ghalibaf, pengalaman selama ini membuat Iran tidak bisa begitu saja mempercayai Washington.
"Kami tidak akan menyetujui perjanjian apa pun sampai kami yakin bahwa hak-hak rakyat Iran telah dijunjung tinggi," kata Ghalibaf dalam video yang disiarkan televisi pemerintah.
Pernyataan tersebut menunjukkan masih lebarnya jurang perbedaan antara kedua negara, meskipun sebelumnya sempat muncul optimisme bahwa kesepakatan besar untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah dan membuka kembali Selat Hormuz semakin dekat.
Situasi menjadi semakin rumit setelah media Amerika, New York Times dan Axios, melaporkan bahwa Trump telah mengirimkan kerangka kesepakatan baru yang lebih ketat kepada Iran. Namun hingga kini, rincian proposal tersebut belum diungkap ke publik.
Baca Juga: Soal Klaim Cabut Blokade Pelabuhan oleh Trump, Iran: Mengkhianati Diplomasi Lagi
Di sisi lain, Trump tetap bersikap optimistis. Ia menegaskan bahwa prioritas utama Amerika Serikat adalah memastikan Iran tidak mengembangkan senjata nuklir dan membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
"Satu-satunya jaminan yang harus saya dapatkan adalah tidak akan ada senjata nuklir. Mereka telah menyetujuinya, dan itu sangat menarik," katanya.
Meski demikian, Teheran tampaknya belum sepenuhnya sejalan dengan klaim tersebut. Pemerintah Iran masih mempertanyakan sejumlah poin penting dalam proses negosiasi yang berlangsung.
Kantor berita Tasnim bahkan mengungkapkan bahwa pembahasan naskah kesepakatan masih terus berubah karena kedua pihak saling mengajukan revisi.
Menurut Tasnim, "Pertukaran informasi antara Iran dan Amerika Serikat mengenai teks kemungkinan nota kesepahaman sedang berlangsung, dengan kedua pihak secara teratur mengusulkan amandemen."
Lembaga itu juga menegaskan bahwa belum ada keputusan final yang tercapai hingga saat ini.
"Belum ada kesepakatan yang difinalisasi, dan ada kemungkinan bahwa kesepakatan apa pun akan ditolak," katanya.
Negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat sendiri sebenarnya telah berlangsung sejak Februari lalu terkait masa depan program nuklir Teheran. Namun situasi berubah drastis setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara serta rudal yang menghancurkan sebagian besar jajaran pemimpin senior Republik Islam Iran.
Baca Juga: Iran Tuding Trump Main Dua Kaki, Gencatan Senjata dengan AS Terancam Gagal
Sejak saat itu, ketegangan terus membayangi proses diplomasi. Iran berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya hanya ditujukan untuk kepentingan sipil. Sebaliknya, Amerika Serikat bersama sekutu-sekutunya di Barat tetap mencurigai adanya ambisi pengembangan senjata nuklir.
Kini, di tengah harapan pembukaan kembali Selat Hormuz dan berakhirnya konflik berkepanjangan di kawasan, pernyataan terbaru Iran menjadi sinyal bahwa jalan menuju kesepakatan damai masih jauh dari kata mulus.
Satu draf baru dari Washington justru berpotensi memperpanjang negosiasi yang selama berminggu-minggu telah diwarnai retorika keras dan sesekali bentrokan bersenjata.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: