Kredit Foto: Wafiyyah Amalyris K
Pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir menjadi salah satu isu yang mendapat perhatian publik di berbagai platform digital.
Perkembangan tersebut memunculkan beragam diskusi di media sosial, mulai dari respons masyarakat terhadap informasi ekonomi hingga cara publik memaknai dinamika yang terjadi.
Pengamat Komunikasi Digital Laju Institute, Mandra Pradipta atau yang akrab disapa Dipta, menilai tingginya perhatian masyarakat terhadap isu pelemahan rupiah menunjukkan bahwa ruang digital kini memiliki peran yang semakin besar dalam membentuk persepsi publik terhadap berbagai isu strategis.
Menurut Dipta, media sosial tidak lagi hanya menjadi sarana penyebaran informasi, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk membangun pemahaman, bertukar pandangan, dan membentuk opini terhadap suatu peristiwa.
"Fenomena ini menunjukkan bahwa di era digital, masyarakat semakin cepat memperoleh informasi, tetapi belum tentu memiliki waktu yang sama untuk memahami konteksnya. Karena itu, kualitas komunikasi publik menjadi sama pentingnya dengan informasi itu sendiri," kata Dipta.
Ia menjelaskan bahwa tingginya perhatian publik terhadap isu pelemahan rupiah mencerminkan meningkatnya keterlibatan masyarakat dalam mengikuti perkembangan berbagai isu yang dianggap memiliki dampak terhadap kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, dalam ekosistem digital, suatu informasi dapat menyebar dengan sangat cepat dan memunculkan beragam interpretasi. Oleh karena itu, masyarakat perlu memperoleh informasi yang utuh dan mudah dipahami agar dapat membangun pemahaman yang proporsional terhadap suatu isu.
"Di media sosial, perhatian publik sering kali tertuju pada satu angka atau satu peristiwa tertentu. Padahal yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat memahami konteks di balik informasi tersebut. Di sinilah literasi digital dan literasi informasi memiliki peran yang sangat penting," ujarnya.
Dipta menilai fenomena ini menunjukkan bahwa ruang digital telah berkembang menjadi arena penting dalam pembentukan persepsi publik. Narasi yang berkembang di media sosial dapat memengaruhi cara masyarakat memandang suatu isu, termasuk dalam membentuk optimisme, kehati-hatian, maupun ekspektasi terhadap berbagai perkembangan yang sedang terjadi.
Karena itu, ia menilai seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, media massa, akademisi, dan komunitas digital, memiliki peran yang sama penting dalam menghadirkan komunikasi publik yang informatif, mudah dipahami, dan berbasis pada fakta.
"Yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa cepat informasi menyebar, tetapi juga seberapa baik publik memahami makna di balik informasi tersebut. Di era digital, tantangan terbesar bukan lagi keterbatasan informasi, melainkan bagaimana membangun pemahaman yang sehat di tengah melimpahnya arus informasi," jelasnya.
Lebih lanjut, Dipta menilai meningkatnya perhatian masyarakat terhadap berbagai isu strategis merupakan perkembangan positif bagi kehidupan demokrasi digital. Menurutnya, ruang digital perlu terus didorong menjadi ruang diskusi yang sehat, konstruktif, dan mendorong lahirnya pemahaman publik yang lebih baik.
"Ruang digital yang sehat bukan hanya ruang yang ramai oleh percakapan, tetapi juga ruang yang mampu mendorong lahirnya pemahaman yang berkualitas. Semakin baik literasi informasi masyarakat, semakin kuat pula kemampuan publik dalam menyikapi berbagai isu secara kritis dan bertanggung jawab," pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: