Negara Rugi Ribuan Triliun, Eks Menkeu: Era Jokowi Jadi 'Perampokan' Terparah
Kredit Foto: Istimewa
Mantan Menteri Keuangan era Presiden Soeharto, Fuad Bawazier, melontarkan kritik tajam terhadap tata kelola sumber daya alam Indonesia dalam satu dekade terakhir.
Ia menyebut praktik eksploitasi komoditas strategis khususnya pada masa pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo sebagai periode "perampokan" sumber daya alam paling parah yang pernah terjadi.
Pernyataan itu disampaikan Fuad dalam podcast Forum Keadilan TV bersama jurnalis senior Margi Syarif. Menurutnya, kondisi tersebut kini menjadi beban berat yang harus dibenahi oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Perampokan terparah di masa 10 tahun Pak Jokowi,” kata Fuad.
Ia menilai eksploitasi berbagai komoditas strategis seperti batu bara, nikel, emas hingga sawit selama ini berjalan jauh dari semangat Pasal 33 UUD 1945 yang mengamanatkan penguasaan negara atas kekayaan alam untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Fuad mengungkapkan dirinya sempat berdiskusi langsung dengan Prabowo sebelum pidato Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2026. Dalam pertemuan itu, ia menangkap keseriusan Presiden untuk membenahi tata kelola sumber daya alam yang dinilai telah lama bermasalah.
Menurut Fuad, pertumbuhan sektor tambang selama beberapa tahun terakhir tidak berbanding lurus dengan penerimaan negara. Ia menyoroti maraknya tambang ilegal, praktik transfer pricing, hingga dugaan manipulasi ekspor yang membuat devisa hasil sumber daya alam tidak sepenuhnya masuk ke kas negara.
Ketika ditanya mengenai potensi kerugian negara akibat praktik tersebut, Fuad menyebut angkanya sangat besar. “Ribuan triliun rupiah,” ujar Fuad.
Baca Juga: Eks Menkeu Sebut Prabowo Setengah Mati 'Cuci Piring' Jokowi
Tak hanya itu, ia juga menyinggung menguatnya pengaruh kelompok oligarki ekonomi yang disebut memiliki kemampuan memengaruhi berbagai kebijakan strategis negara.
“Kalau menurut saya subjektif, mereka mendikte,” ucap dia.
Fuad menilai kondisi tersebut membuat upaya pembenahan yang kini dilakukan pemerintah tidak akan berjalan mudah. Menurut dia, langkah memperketat pengawasan terhadap sumber daya alam berpotensi menghadapi berbagai bentuk perlawanan dari kelompok yang selama ini menikmati keuntungan dari sistem lama.
Ia menyebut tekanan bisa muncul melalui berbagai jalur, mulai dari pasar modal, pergerakan nilai tukar rupiah, hingga lobi-lobi politik.
Karena itu, Fuad mengaku memahami beratnya tugas yang kini berada di tangan Presiden Prabowo. Ia bahkan menggambarkan proses pembenahan tersebut sebagai pekerjaan besar yang membutuhkan tenaga dan kesabaran luar biasa.
“Ada pernah terlontar nggak dari mulut Pak Prabowo, ‘berat ini nyuci piringnya’? Ya, secara tidak langsung memang berat,” katanya.
Salah satu langkah yang menurut Fuad dapat menjadi solusi adalah rencana penguatan kontrol negara terhadap ekspor komoditas strategis melalui skema ekspor satu pintu yang sedang dipersiapkan pemerintah.
Ia menilai langkah tersebut penting untuk memperketat pengawasan terhadap hasil tambang dan komoditas unggulan agar tidak lagi terjadi kebocoran devisa maupun manipulasi perdagangan.
Meski tantangannya besar, Fuad meyakini Prabowo masih berada di jalur yang benar.
“Kalau pemerintahnya bersih, serius, dan teguh, tidak ada kekuatan yang lebih besar dari pemerintah,” ujar Fuad.
Baca Juga: Prabowo Tersandera Jokowi, Dugaan Intimidasi Jelang Deklarasi Gibran Bocor!
Menurutnya, pembenahan tata kelola ekonomi nasional memang tidak bisa dilakukan secara instan. Namun ia optimistis hasilnya akan mulai terlihat dalam beberapa bulan ke depan apabila pemerintah konsisten menjalankan reformasi yang telah direncanakan.
Fuad pun menegaskan bahwa keberhasilan memperbaiki tata kelola sumber daya alam akan menjadi salah satu faktor penentu masa depan ekonomi Indonesia. Jika persoalan tersebut berhasil diselesaikan, manfaatnya diyakini akan dirasakan langsung oleh negara maupun masyarakat luas.
"Penyakit terbesar Republik Indonesia adalah tata kelola sumber daya alam ini. Kalau ini dibenahi, Indonesia bisa bangkit,” pungkasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: