Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Demi Swasembada Susu, Kementan Dorong Ekspansi Peternakan ke Subang dan Brebes

Demi Swasembada Susu, Kementan Dorong Ekspansi Peternakan ke Subang dan Brebes Kredit Foto: Nestle
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong inovasi pengembangan peternakan sapi perah guna mengejar target swasembada dan kedaulatan susu nasional. Salah satu strategi yang kini digalakkan adalah pemanfaatan lahan di wilayah dataran rendah untuk pengembangan usaha peternakan sapi perah.

Selama puluhan tahun, peternakan sapi perah di Indonesia sangat bergantung pada lahan bersuhu sejuk di dataran tinggi. Namun, keterbatasan ketersediaan lahan di kawasan pegunungan mendorong pelaku usaha mulai melirik potensi pengembangan peternakan di wilayah dataran rendah.

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian, Makmun, menyoroti tren pembangunan peternakan sapi perah di dataran rendah yang mulai berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

"Jadi sekarang sudah banyak industri juga yang bangun di dataran rendah, seperti sekarang yang ada di Subang, ada yang bangun di Brebes, itu dataran rendah semua Bapak Ibu sekalian," ungkap Makmun saat jumpa pers di kantor Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Pangan, Selasa (2/6/2026).

Menurutnya, keberhasilan budidaya sapi perah di dataran rendah sangat bergantung pada penerapan teknologi modern yang mampu mengatur suhu dan lingkungan kandang agar tetap ideal bagi ternak.

Makmun mencontohkan negara-negara dengan iklim panas seperti Uni Emirat Arab dan sejumlah negara di Timur Tengah yang tetap mampu mengembangkan industri sapi perah berkat dukungan teknologi.

"Kalau kita lihat di negara lain, Uni Emirat Arab, kemudian negara-negara Timur Tengah, juga memproduksi sapi perah," papar Makmun.

Modifikasi iklim mikro di dalam kandang dinilai efektif menjaga kenyamanan dan produktivitas sapi perah, sehingga dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang lebih hangat.

"Kan kita bisa bayangkan seperti apa ketinggiannya, suhunya, tapi dengan teknologi yang ada, modifikasi itu bisa menjamin kemudian sapi perah ini bisa berkembang di dataran rendah sehingga lahan-lahan yang kita miliki di dataran rendah ini bisa kita gunakan," tegas Makmun.

Baca Juga: Kebutuhan Susu Program MBG Meledak, BGN Cari Solusi Jangka Panjang

Baca Juga: Ramai Isu MBG Bagikan Susu Formula Bayi, Pemerintah Langsung Revisi Pedoman

Menurut dia, inovasi rekayasa lingkungan tersebut membuka peluang investasi yang lebih luas bagi pengembangan industri susu nasional.

"Oleh karenanya sekarang tidak ada lagi kendala. Dengan teknologi ini kita bisa berproduksi dan meningkatkan populasi sapi perah di dataran rendah," tandas Makmun.

Sebelumnya, Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkapkan tingginya kebutuhan susu dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini telah menjangkau puluhan juta penerima manfaat di seluruh Indonesia.

Pelaksana Tugas (Plt.) Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama BGN, Gunalan, mengatakan saat ini terdapat 29.670 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG yang telah beroperasi.

"Saat ini Bapak Ibu sekalian rekan-rekan wartawan, ada 29.670 SPPG atau dapur yang sudah beroperasi," jelas Gunalan dalam kesempatan yang sama.

Program MBG saat ini telah melayani lebih dari 63 juta penerima manfaat. Melalui Surat Edaran (SE) Nomor 10 Tahun 2026, setiap SPPG diwajibkan memberikan susu sebanyak dua kali dalam seminggu.

"Kemudian ada 63.013.000 lebih penerima manfaat, yang mana dari data tersebut ada beberapa surat edaran yang telah dikeluarkan oleh Kepala Badan Gizi Nasional, baik juknis maupun surat edaran terakhir Nomor 10 Tahun 2026, di mana setiap SPPG itu diwajibkan memberikan minuman atau susu ini dua kali dalam seminggu," urai Gunalan.

Baca Juga: Susu Lokal Dibuang ke Sungai, Mentan Kerahkan TNI-Polri Kawal Pangan

Baca Juga: BGN Tegaskan Tidak Buka Opsi Susu Formula Bayi dalam Program Makan Bergizi Gratis

Tingginya kebutuhan susu tersebut menghadirkan tantangan tersendiri bagi pengelola dapur MBG. Ketersediaan susu di pasar lokal kerap kali belum mampu memenuhi lonjakan permintaan yang terjadi.

"Sehingga untuk kebutuhan susu yang sangat besar ini kami juga agak kewalahan. Rekan-rekan kami di lapangan, khususnya yang di dapur, apabila tidak mendapatkan susu di pasar biasanya mereka mengganti dengan sumber protein lainnya," terangnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Annisa Nurfitri