Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Nadiem Makarim: Hancur Hati Saya, Raih Bintang Mahaputera, Tapi Hasil Usaha Saya 10 Tahun Dirampas, Apa Negara Sekejam ini?

Nadiem Makarim: Hancur Hati Saya, Raih Bintang Mahaputera, Tapi Hasil Usaha Saya 10 Tahun Dirampas, Apa Negara Sekejam ini? Kredit Foto: Antara/Agatha Olivia Victoria
Warta Ekonomi, Jakarta -

Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim menyampaikan nota pembelaan atau pledoi yang emosional di hadapan majelis hakim.

Nadiem mempertanyakan keadilan negara setelah dirinya dituntut hukuman 18 tahun penjara serta kewajiban membayar uang pengganti sebesar Rp5,6 triliun subsidair 9 tahun kurungan.

Dalam persidangan itu, pendiri Gojek ini merespons narasi publik yang menyebut kesalahannya kenapa bersedia masuk ke dalam kabinet pemerintahan dan meninggalkan zona nyaman sebagai pengusaha sukses.

"Banyak yang berkomentar sejak kasus ini dimulai, 'Salah Nadiem cuman satu, mau menjadi menteri padahal sudah nyaman di Gojek.' Saya mau menanggapi komentar ini dengan pertanyaan sederhana. Kalau semua orang berprestasi menolak amanah untuk mengabdi karena sudah nyaman, apa jadinya masa depan negara kita?'," kata Nadiem di hadapan muka persidangan.

Nadiem mengungkapkan bahwa keputusannya menerima jabatan menteri lima tahun lalu didasari oleh keinginan melakukan lompatan besar bagi generasi penerus bangsa, bukan demi keuntungan materi. Bagi dia, kesempatan untuk mengabdi kepada negara hanya datang sekali dalam hidup.

"Justru karena saya sudah dianugerahi Allah Swt dengan kemapananan finansial rasa tanggungjwab saya ke negara jadi lebih besar, itulah mengapa saya mempertaruhkan segala-galanya; keuangan saya reputasi saya, ketenangan hati dan keluarga saya untuk mengabdi kepada negara," tambahnya.

Ia menegaskan kalau kesempatan mencari uang akan selalu ada selalu di hidupnya, tetapi kesempatan melakukan lompatan besar untuk generasi penerus bangsa hanya akan datang sekali dalam hidup, pungkasnya.

Ia juga berharap lewat pledoi ini, anak-anaknya di masa depan dapat melihat bahwa sang ayah sama sekali tidak pernah menyesali keputusan untuk mengabdi pada bangsa dan negara.

"Saya harap di kemudian hari anak-anak saya akan menonton pledoi ini, dan meyakin ayahnya tidak pernah menyesal mengabdi kepada negara," pungkasnya.

Di hadapan majelis hakim, Nadiem tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya. Ia merasa terpukul karena setelah mendedikasikan waktu dan mengorbankan finansialnya, akhir dari pengabdiannya justru berujung pada ancaman hukuman penjara yang sangat lama.

Apalagi, dirinya baru saja menerima tanda kehormatan tertinggi dari Presiden berupa Bintang Mahaputera Adipradana atas jasa-jasanya selama memimpin kementerian.

"Tetapi saya juga manusia, bayangkan betapa hancurnya hati saya. Setelah mendapatkan penghormatan tertinggi negara Bintang Mahaputera Adipradana dari Pak Presiden untuk pengabdian saya selama 5 tahun, hadiah yang saya dapatkan adalah jeruji besi. Hadiah yang saya dapatkan adalah perampasan hasil usaha saya selama 10 tahun, yang telah menciptakan jutaan lapangan pekerjaan di Indonesia. Apakah negara sekejam ini pada abdinya?" pungkas Nadiem di akhir pembelaannya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Ferry Hidayat