Senator Amerika Murka ke Trump: Kenapa Negara Superpower Seperti Kita Bisa Ditahan Iran?
Kredit Foto: Istimewa
Ketegangan terkait kebijakan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran memicu perdebatan panas di Senat. Senator Partai Demokrat, Cory Booker secara terbuka mempertanyakan bagaimana negara sekuat Amerika Serikat bisa terjebak dalam kebuntuan berkepanjangan melawan Iran.
Pernyataan itu disampaikan Booker dalam sidang Komite Hubungan Luar Negeri Senat saat membahas perkembangan konflik dan negosiasi antara Washington dan Teheran.
Baca Juga: Rudal hingga Drone Berjatuhan, Iran Serang Markas Angkatan Laut Amerika Serikat di Bahrain
Menurut Booker, situasi yang terjadi saat ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai posisi Amerika sebagai negara adidaya dunia.
Ia menyoroti kondisi di mana Amerika Serikat masih belum mampu mencapai penyelesaian tegas terhadap Iran meski memiliki kekuatan militer, ekonomi, dan diplomatik terbesar di dunia.
“Kita adalah negara terkuat di muka bumi, tetapi kita berada dalam kebuntuan dengan Iran,” kata Booker, dikutip Rabu (3/6).
Politikus dari New Jersey itu juga mengkritik arah kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump yang dinilainya justru berupaya kembali ke meja perundingan setelah sebelumnya menarik Amerika keluar dari kesepakatan nuklir Iran tahun 2015.
Menurut Booker, situasi tersebut menciptakan kesan bahwa Washington sedang berusaha kembali ke kesepakatan yang sebelumnya mereka tolak sendiri.
Pernyataan keras itu langsung memicu respons dari Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio. Ia menolak anggapan bahwa Amerika Serikat berada dalam posisi lemah atau terpaksa memohon kepada Iran untuk mencapai kesepakatan.
Sebaliknya, ia menegaskan bahwa justru Iran yang saat ini menghadapi tekanan berat akibat perang, sanksi ekonomi, dan kemunduran kemampuan militernya.
“Tidak ada yang namanya memohon. Justru Iran yang memohon,” ujar Rubio.
Menurutnya, perekonomian Iran sedang mengalami tekanan serius dengan kerugian ratusan juta dolar setiap hari.
Rubio menyebut inflasi yang sangat tinggi, nilai mata uang yang terus merosot, hingga kesulitan pemerintah Iran membayar pegawai menjadi bukti bahwa Teheran berada dalam kondisi yang jauh lebih sulit dibandingkan Amerika Serikat.
Selain faktor ekonomi, Rubio juga menilai kekuatan militer Iran telah mengalami penurunan signifikan selama konflik yang berlangsung beberapa bulan terakhir.
Ia mengklaim sebagian besar kemampuan pertahanan Iran telah melemah akibat serangkaian operasi militer yang terjadi sejak awal tahun.
“Iran tidak memiliki angkatan laut yang tersisa. Mereka kehilangan sebagian besar basis industri pertahanan dan banyak peluncur rudal mereka,” kata Rubio.
Pernyataan Rubio tersebut sekaligus menjadi bantahan atas narasi bahwa Iran berada dalam posisi unggul menghadapi Amerika Serikat.
Meski demikian, perdebatan di Senat menunjukkan masih adanya perbedaan pandangan tajam di kalangan elite politik Amerika mengenai hasil dari strategi Washington terhadap Iran.
Bagi Booker, fakta bahwa konflik belum menemukan jalan keluar dan negosiasi masih berlangsung menjadi pertanyaan tentang efektivitas kebijakan yang dijalankan selama ini.
Sementara bagi Rubio, kebuntuan yang terjadi bukan karena Amerika tertahan oleh Iran, melainkan karena Teheran sedang berupaya mencari jalan keluar dari tekanan ekonomi dan militer yang semakin berat.
Baca Juga: Amerika Curiga Ada Mata-Mata di Timnas Iran, Bakal Diawasi Ketat di Piala Dunia 2026
Perdebatan tersebut muncul di tengah situasi yang masih belum stabil setelah konflik Iran-Amerika memasuki bulan keempat tanpa adanya kesepakatan damai permanen. Ketidakpastian itu terus memengaruhi keamanan kawasan Teluk, pasar energi global, serta hubungan diplomatik di Timur Tengah.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: