Kredit Foto: WGS Hub
PT Wira Global Solusi Tbk (IDX: WGSH) menegaskan kembali arah strategisnya sebagai perusahaan holding investasi berbasis teknologi.
Langkah ini dilakukan untuk memperjelas posisi perseroan di mata publik dan investor bahwa ruang gerak perusahaan kini mencakup portofolio investasi yang lebih luas dan terdiversifikasi, tidak lagi terbatas pada bisnis teknologi informasi (IT).
Komisaris Utama PT Wira Global Solusi Tbk, Ikin Wirawan, menjelaskan bahwa teknologi diposisikan sebagai kompetensi inti untuk menciptakan nilai tambah di berbagai sektor usaha dalam ekosistem bisnis perusahaan.
“WGSH bukan hanya perusahaan IT. Kami adalah perusahaan holding investasi yang menggunakan teknologi sebagai penggerak utama untuk membangun nilai di berbagai lini bisnis," kata Ikin Wirawan dalam keterangan tertulisnya, Juni 2026.
Melalui WGS Ventures, perseroan menjalankan strategi sebagai tech-driven diversified holding. WGSH tidak hanya berinvestasi pada startup digital, tetapi juga merambah sektor agrobisnis, manufaktur, dan properti yang terintegrasi dengan pemanfaatan teknologi.
Terdapat tiga proyek utama yang diproyeksikan memberikan kontribusi terhadap kinerja perusahaan dalam jangka pendek maupun jangka panjang:
- Landlogic, proyek pengembangan properti berupa 178 kavling perumahan siap pasar yang dijalankan setelah akuisisi PT Lereng Lembah Madu pada 2025.
- Tumbara, perusahaan distribusi pangan laut di mana WGSH memiliki 10 persen kepemilikan saham dan saat ini memasok udang vannamei ke salah satu jaringan supermarket nasional.
- Blue Phoenix, proyek ekonomi sirkular di bawah PT Qorser Teknologi yang berfokus pada perdagangan limbah botol plastik PET yang diolah menjadi cacahan plastik (flakes).
Bidik Rp30 Miliar Lewat Skema Private Placement
Untuk mendukung pendanaan ekspansi bisnis, khususnya pada proyek Blue Phoenix, WGSH berencana melaksanakan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau private placement.
Perseroan akan menerbitkan sebanyak 208.500.000 saham baru atau setara dengan dilusi 10 persen. Harga saham ditetapkan minimal 90 persen dari rata-rata harga penutupan selama 25 hari bursa terakhir.
Melalui aksi korporasi tersebut, WGSH menargetkan tambahan modal kerja sekitar Rp20 miliar hingga Rp30 miliar.
Menurut Ikin, private placement tidak hanya bertujuan memperoleh pendanaan baru, tetapi juga meningkatkan likuiditas saham perseroan di pasar modal sekaligus memperkuat fundamental bisnis.
"Di tahun 2026 ini kita sudah memiliki kendaraan yang dapat menciptakan uang dengan efisien apabila disuntik modal tambahan," ujarnya.
Ke depan, proyek Blue Phoenix telah menyiapkan roadmap bisnis untuk memperluas aktivitas dari sektor hulu melalui pengumpulan sampah hingga sektor hilir melalui industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Manajemen WGSH juga menyatakan tengah menyiapkan sejumlah aksi korporasi lanjutan hingga 2027.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: