Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Punya Modal ini, Indonesia Bidik Masuk 4 Besar Produsen Keramik Dunia

Punya Modal ini, Indonesia Bidik Masuk 4 Besar Produsen Keramik Dunia Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Industri keramik nasional membidik posisi yang lebih tinggi di pasar global. Setelah masuk dalam jajaran lima besar produsen keramik dunia, Indonesia kini menargetkan dapat menembus peringkat empat besar dalam beberapa tahun ke depan.

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan, target tersebut bukan sesuatu yang mustahil mengingat industri keramik nasional memiliki kapasitas produksi yang besar, didukung ketersediaan bahan baku dalam negeri serta pasar domestik yang masih terus berkembang.

"Saat ini Indonesia sudah berada di jajaran lima besar produsen keramik dunia bersama China, India, Brasil, dan Vietnam. Dengan berbagai potensi yang dimiliki, kami optimistis Indonesia dapat masuk ke empat besar dunia," ujar Faisol.

Saat ini kapasitas produksi terpasang industri keramik nasional mencapai sekitar 650 juta meter persegi per tahun dengan tingkat utilisasi sebesar 73 persen. Sektor ini juga menyerap lebih dari 150 ribu tenaga kerja.

Menurut Faisol, industri keramik Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk meningkatkan daya saing global. Selain didukung sumber daya manusia yang kompeten, industri ini juga ditopang ketersediaan bahan baku domestik yang melimpah.

Kinerja industri keramik juga menunjukkan tren positif. Pada triwulan I 2026, subsektor industri barang galian bukan logam yang mencakup industri keramik tumbuh 9,12 persen. Angka tersebut menjadi salah satu yang tertinggi di sektor manufaktur nasional.

"Kondisi ini menunjukkan bahwa industri keramik memiliki peran strategis dalam menopang pertumbuhan sektor manufaktur nasional," kata Faisol.

Di sisi lain, pemerintah terus menjaga daya saing industri keramik melalui berbagai kebijakan, mulai dari fasilitas Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib, pengamanan perdagangan melalui instrumen safeguard dan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD), hingga penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Baca Juga: Buntut Geopolitik Global, Kemenperin Soroti Dampak ke Biaya Produksi

Namun, menurut Faisol, peningkatan kapasitas produksi saja tidak cukup untuk membawa Indonesia naik peringkat di tingkat global. Industri keramik juga perlu melakukan transformasi melalui digitalisasi, penerapan teknologi manufaktur modern, serta pengembangan desain dan produk yang lebih inovatif.

"Industri keramik Indonesia tidak hanya harus unggul dari sisi volume produksi, tetapi juga kualitas, efisiensi, keberlanjutan, dan inovasi," ujarnya.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (ASAKI) Edy Suyanto menambahkan, industri keramik nasional justru menunjukkan pertumbuhan ketika industri keramik dunia mengalami perlambatan.

Kapasitas produksi nasional meningkat dari 538 juta meter persegi per tahun pada 2021 menjadi 650 juta meter persegi per tahun pada 2025. Pada 2026, kapasitas tersebut diproyeksikan naik menjadi 672 juta meter persegi per tahun dan terus bertambah hingga mencapai 728 juta meter persegi per tahun pada 2029.

"Ini menunjukkan tren yang berlawanan dengan industri keramik dunia yang mengalami penurunan produksi sejak 2021. Industri keramik Indonesia justru terus tumbuh dan memperkuat kapasitasnya," kata Edy.

ASAKI juga menargetkan tingkat utilisasi industri keramik dapat mencapai 75 persen pada akhir 2026 seiring meningkatnya permintaan pasar domestik.

Baca Juga: Sektor Manufaktur Serap 20 Juta Tenaga Kerja, Kemenperin Fokus Perkuat SDM

Meski demikian, peluang pertumbuhan masih terbuka lebar. Konsumsi keramik Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 2,5 meter persegi per kapita, masih di bawah rata-rata negara ASEAN yang berada di kisaran 3 hingga 3,5 meter persegi per kapita.

Kondisi tersebut dinilai menjadi ruang pertumbuhan yang besar bagi industri keramik nasional untuk memperkuat pasar domestik sekaligus meningkatkan daya saing di pasar internasional.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman