Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Amran Murka! Harga Sawit Turun Saat Dolar Naik, Minta TBS Naik 10 Persen

Amran Murka! Harga Sawit Turun Saat Dolar Naik, Minta TBS Naik 10 Persen Kredit Foto: Kementan
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kementerian Pertanian (Kementan) menyoroti anjloknya harga pembelian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani yang dinilai tidak sejalan dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan kondisi tersebut merupakan anomali karena secara ekonomi pelemahan rupiah seharusnya mendorong kenaikan harga komoditas ekspor, termasuk kelapa sawit.

Untuk membahas persoalan tersebut, Kementan menggelar rapat koordinasi bersama petani, pengusaha, dan eksportir kelapa sawit di Jakarta, Senin (8/6/2026).

"Alhamdulillah hari ini sepakat tidak ada lagi harga yang turun. Harus naik seperti kondisi semula. Bahkan bila perlu itu naik lebih tinggi," ujar Amran dalam konferensi pers usai rapat.

Menurut Amran, pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS seharusnya memberikan keuntungan tambahan bagi pelaku usaha sawit yang berorientasi ekspor.

"Ini ada anomali. Di saat ini harga harusnya naik, bukan turun. Kenapa? Karena nilai dolar selisih 10 persen, ya harus naik," katanya.

Karena itu, Kementan meminta seluruh perusahaan pengolahan kelapa sawit segera menyesuaikan harga pembelian TBS dari petani. Amran menyebut sekitar 15 juta petani sawit berpotensi dirugikan akibat belum adanya penyesuaian harga tersebut.

"Jadi minimal sama dengan harga seperti semula. Ada kurang lebih 270 sampai 300 perusahaan yang belum menaikkan harga dan kami akan kirim langsung tembusan ke Pak Kapolri, Pak Kapolda, dan Dirkrimsus untuk ditindaklanjuti," ujarnya.

Baca Juga: Amran Cabut 2.231 Izin Distributor Pupuk Nakal, Mafia Pangan Disikat!

Baca Juga: Sikat Kartel Pangan dan Koruptor Internal, Mentan Amran: Satu-Satu Dulu, Yang Lain Menyusul!

Amran menegaskan, dengan nilai tukar dolar AS yang saat ini mendekati Rp18.000 per dolar AS, harga TBS semestinya naik dibandingkan posisi sebelumnya.

"Bahkan harusnya naik 10 persen daripada harga sebelumnya karena ada selisih nilai dolar sekarang Rp18.000," tegasnya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Annisa Nurfitri