Kemenperin Bidik Pasar Haji dan Umrah untuk Perluas Penjualan Batik Nasional
Kredit Foto: Istimewa
Menurutnya, batik kini tidak lagi identik dengan acara formal atau tradisional, tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat sehari-hari. Kondisi ini membuka peluang bagi pelaku IKM untuk meningkatkan kapasitas usaha sekaligus memperluas jangkauan pemasaran.
Meski demikian, industri batik masih menghadapi sejumlah tantangan, salah satunya persaingan dengan produk tekstil bermotif batik yang diproduksi menggunakan teknik printing. Produk tersebut kerap dianggap sebagai batik oleh konsumen, padahal tidak melalui proses pembatikan menggunakan lilin atau malam.
Untuk memperkuat daya saing pelaku usaha, Kemenperin bersama Yayasan Batik Indonesia (YBI) terus menjalankan berbagai program pembinaan. Salah satunya melalui bimbingan teknis peningkatan efisiensi produksi bagi IKM batik di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.
Baca Juga: Kenakan Barong Bermotif Batik, Presiden Prabowo Hadiri Jamuan Makan Malam KTT ke-48 ASEAN
Program tersebut difokuskan pada penerapan teknologi sederhana yang dapat menekan biaya produksi, seperti pemanfaatan kembali lilin batik bekas dan penggunaan cap batik alternatif berbahan kertas. Langkah ini diharapkan membantu pelaku usaha menghasilkan produk yang lebih kompetitif tanpa mengurangi kualitas maupun nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Pemerintah berharap berbagai upaya tersebut dapat memperkuat posisi batik Indonesia, baik di pasar domestik maupun internasional, termasuk memaksimalkan peluang dari sektor haji dan umrah yang terus berkembang setiap tahunnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Fajar Sulaiman
Tag Terkait: