Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

BGN Tambah Kuota Serapan Tiga Kali Seminggu, Harga Telur Siap Kembali Meroket

BGN Tambah Kuota Serapan Tiga Kali Seminggu, Harga Telur Siap Kembali Meroket Kredit Foto: Muhammad Farhan Shatry
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kesedihan para peternak ayam petelur akibat menumpuknya pasokan telur di kandang akhirnya menemukan titik terang penyelesaian. Pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional (BGN) berjanji akan menyedot sisa stok komoditas tersebut secara masif.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan kerja sama lintas lembaga ini sukses diteken setelah adanya lobi tingkat tinggi antarpimpinan birokrasi. Ia menekankan, respons cepat BGN ini menjadi penyelamat di saat oversupply telur di kalangan peternak ayam petelur.

"Kami menelepon langsung Ibu Kepala BGN (Badan Gizi Nasional), dan beliau langsung menyanggupi (penyerapan telur dari peternak), luar biasa beliau," jelas Amran saat jumpa pers di kantor Kementerian Pertanian, Selasa (9/6/2026).

Volume penyerapan hasil ternak oleh lembaga pangan tersebut dipastikan bakal melesat jauh melebihi kuota sebelumnya.

"Insyaallah jumlahnya, kuantumnya akan ditingkatkan untuk BGN kita seluruh Indonesia," tegas Amran.

Percepatan ritme belanja logistik ini otomatis akan membuat stok telur di tingkat produsen cepat terkuras habis. Amran meyakini, kebijakan penyerapan telur sebanyak tiga kali dalam satu pekan, akan menambah permintaan telur dari peternak lokal.

"Tiga kali seminggu. Cepat itu nanti," lugas Amran.

Baca Juga: Ogah Bebani APBN, Kepala BGN Bongkar Langkah Hemat Rem Mendadak Anggaran MBG

Baca Juga: BGN Kurangi Ketergantungan APBN, CSR hingga Hibah Asing Disiapkan untuk MBG

Diketahui, Ketua Presidium PPN (Pinsar Petelur Nasional), Yudianto Yosgiarso menjelaskan harga telur mengalami anjlok dikarenakan adanya produksi yang oversupply. Untuk itu, Yudianto mengaku intervensi pemerintah dalam penetapan HAP yakni Rp26.500 per kilogram.

“Yang jelas ini karena kami terjadi oversupply. Yang jelas terjadi oversupply telur,” jelas Yudianto saat jumpa pers di Kementerian Pertanian, Selasa (8/6/2026).

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Muhammad Farhan Shatry
Editor: Annisa Nurfitri