Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Harga Minyak Dunia Anjlok, DPR Desak Pertamina Segera Turunkan Harga Pertamax

Harga Minyak Dunia Anjlok, DPR Desak Pertamina Segera Turunkan Harga Pertamax Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Warta Ekonomi, Jakarta -

Desakan agar harga BBM nonsubsidi kembali diturunkan mulai menguat setelah harga minyak dunia mengalami penurunan tajam dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut memicu tuntutan agar masyarakat juga ikut merasakan dampak positif dari membaiknya situasi global.

Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam meminta pemerintah dan Pertamina segera mengevaluasi harga Pertamax yang saat ini masih bertahan di level tinggi. Menurutnya, penyesuaian harga seharusnya tidak hanya dilakukan ketika harga minyak dunia melonjak.

Mufti menilai masyarakat selama ini selalu diminta memahami kondisi ketika harga BBM naik akibat gejolak internasional. Karena itu, saat tekanan global mereda dan harga minyak turun, manfaatnya juga harus dirasakan oleh konsumen.

"Ketika perang memanas, rakyat diminta memahami kenaikan harga BBM karena harga minyak dunia melonjak. Maka ketika perang mereda, Selat Hormuz kembali aman, dan harga minyak dunia turun, rakyat juga menuntut hal yang sama, manfaatnya harus segera dirasakan," kata Mufti.

Ia mengingatkan bahwa logika penyesuaian harga energi tidak boleh berjalan satu arah. Menurutnya, publik akan mempertanyakan keadilan kebijakan apabila kenaikan harga cepat diterapkan saat krisis, tetapi penurunan harga berjalan lambat ketika kondisi membaik.

"Jangan sampai logikanya hanya berlaku satu arah. Saat harga minyak naik, harga BBM cepat menyesuaikan. Tetapi saat harga minyak turun, yang muncul justru berbagai alasan untuk menunda penyesuaian," ujarnya.

Mufti menambahkan bahwa harga BBM memiliki efek berantai terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat. Perubahan harga bahan bakar dapat memengaruhi biaya transportasi, distribusi barang, harga pangan hingga daya beli masyarakat.

Menurutnya, pemerintah dan Pertamina perlu segera mengkaji ruang penurunan harga BBM nonsubsidi apabila kondisi pasar energi global terus menunjukkan tren penurunan.

Desakan tersebut muncul setelah harga minyak dunia terkoreksi hampir lima persen dalam perdagangan terbaru. Penurunan itu terjadi setelah muncul perkembangan positif terkait konflik yang selama berbulan-bulan mengguncang kawasan Timur Tengah.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Washington dan Teheran telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak awal tahun. Salah satu dampak langsung dari kesepakatan tersebut adalah rencana pembukaan kembali Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.

Trump menyebut aktivitas pelayaran di kawasan tersebut mulai kembali berjalan. Sejumlah kapal tanker minyak dilaporkan sudah bergerak melintasi jalur yang sebelumnya terdampak blokade.

Rencana pembukaan penuh Selat Hormuz pada 19 Juni 2026 disambut positif pasar global. Investor menilai kelancaran distribusi energi dunia akan membantu meredakan tekanan harga minyak yang sebelumnya melonjak akibat konflik.

Meski demikian, sejumlah negara Eropa masih menunjukkan sikap hati-hati terhadap perkembangan tersebut. Beberapa sekutu Amerika Serikat mempertanyakan detail kesepakatan yang dicapai sebelum memutuskan ikut terlibat dalam operasi pengamanan jalur pelayaran di kawasan itu.

Baca Juga: Biang Kerok Pelemahan Rupiah Baru-baru Ini Ternyata Amerika, Kebijakan Trump Jadi Sorotan!

Di Indonesia, perhatian publik kini lebih banyak tertuju pada dampak ekonomi yang bisa dirasakan secara langsung. Harga Pertamax saat ini masih berada di kisaran Rp16.250 per liter setelah sebelumnya mengalami kenaikan signifikan akibat gejolak harga energi global.

Karena itu, DPR menilai momentum turunnya harga minyak dunia seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dan Pertamina. Mereka berharap masyarakat tidak hanya menjadi pihak pertama yang merasakan dampak buruk ketika terjadi krisis global, tetapi juga menjadi pihak yang menikmati manfaat saat kondisi kembali normal.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama