Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

'Ini Plot Teroris,' Amerika Dikejutkan Upaya Pembunuhan Trump di Perayaan Ultahnya ke-80

'Ini Plot Teroris,' Amerika Dikejutkan Upaya Pembunuhan Trump di Perayaan Ultahnya ke-80 Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) mengungkap telah menggagalkan dugaan rencana serangan teror yang menargetkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, saat perayaan ulang tahunnya yang ke-80 di Gedung Putih.

Menurut dokumen pengadilan, aparat keamanan menangkap lima orang yang diduga terlibat dalam rencana serangan terhadap acara pertarungan seni bela diri campuran atau Ultimate Fighting Championship (UFC) yang digelar di halaman Gedung Putih akhir pekan lalu.

Baca Juga: 'FIFA Tak Bisa Apa-apa,' Iran Dibiarkan Sendiri Hadapi Kebijakan Amerika di Piala Dunia 2026

Acara tersebut dihadiri langsung oleh Trump bersama sejumlah anggota Partai Republik, para donor serta pejabat pemerintahan untuk memperingati 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat, sekaligus bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-80.

FBI menyebut para tersangka berencana melancarkan serangan menggunakan drone yang dipasangi bahan peledak dan diarahkan ke sisi utara Gedung Putih.

Setelah ledakan terjadi dan para tamu berusaha menyelamatkan diri melalui jalur evakuasi, kelompok tersebut diduga telah menyiapkan penembak jitu untuk menembaki para politikus dan peserta acara yang berlarian keluar.

Direktur FBI, Kash Patel mengatakan pihaknya menerima informasi mengenai ancaman tersebut pada 10 Juni. Rencana itu berhasil digagalkan sebelum sempat dijalankan sehingga seluruh rangkaian acara berlangsung tanpa insiden.

"FBI dan mitra penegak hukum kami mengetahui adanya potensi ancaman terhadap acara UFC America 250 di Washington, DC, yang melibatkan individu di luar wilayah ibu kota nasional," kata Patel.

Dokumen pengadilan menyebut para tersangka menganut teori konspirasi anti-pemerintah dan sebagian termotivasi oleh kemarahan terhadap penanganan dokumen investigasi kasus pelaku kejahatan seksual, Jeffrey Epstein.

Salah satu tersangka bahkan disebut tertarik menargetkan anggota parlemen yang menerima donasi kampanye dari kelompok pro-Israel.

Setidaknya tiga orang telah didakwa atas tuduhan konspirasi melakukan pembunuhan. Mereka juga menghadapi dakwaan lain berupa konspirasi melakukan kejahatan terhadap Amerika Serikat serta pelanggaran kepemilikan senjata.

Kelompok tersebut diduga beranggotakan hingga 23 orang. Rencana serangan ini sendiri terbongkar berkat laporan ibu salah satu tersangka, Tycen Proper (19), kepada polisi di Ohio. Sang ibu curiga setelah putranya membeli sejumlah senjata dan berinteraksi dengan orang-orang yang dianggap mencurigakan di dunia maya.

Dalam affidavit FBI, Proper kemudian mengakui kepada penyidik bahwa dirinya mengetahui adanya rencana serangan terkoordinasi terhadap acara UFC di Gedung Putih.

Saat berada di Prancis untuk menghadiri pertemuan G7, Trump mengaku belum mendengar informasi mengenai upaya serangan yang ditujukan terhadap acara ulang tahunnya tersebut.

Sementara itu, Wakil Presiden AS, JD Vance menilai rencana serangan itu bukanlah aksi spontan sekelompok orang, melainkan operasi yang terorganisasi dengan pendanaan dan koordinasi yang serius.

"Dua puluh tiga orang tidak mungkin sampai pada titik akan melakukan aksi teror massal di Washington tanpa pendanaan dan koordinasi yang serius," kata Vance.

"Itu bukan sekadar beberapa orang yang bertindak gila. Ini adalah plot teroris yang terkoordinasi dan direncanakan," tambahnya.

Baca Juga: 'Dulu Banyak Silo-silo,' Kesaksian Purbaya Saat Bereskan Isu antara Bea Cukai dan Dirjen Pajak

Kasus ini kembali meningkatkan kekhawatiran mengenai ancaman keamanan terhadap para pejabat tinggi Amerika Serikat, terutama setelah Trump beberapa kali menjadi sasaran ancaman selama perjalanan karier politiknya.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar