Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Israel Tak Senang dengan Kesepakatan Damai Iran-Amerika: Ini Mengerikan, Apa yang Dipikirkan Trump

Israel Tak Senang dengan Kesepakatan Damai Iran-Amerika: Ini Mengerikan, Apa yang Dipikirkan Trump Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran ternyata tidak disambut hangat di Israel. Pengumuman finalisasi memorandum of understanding (MoU) antara Washington dan Teheran justru memicu kekecewaan dan kekhawatiran di kalangan masyarakat Israel.

Media Israel, The Jerusalem Post melaporkan bahwa banyak warga Israel memandang perjanjian tersebut sebagai kabar buruk karena dianggap membiarkan rezim Iran tetap bertahan. Bagi mereka, keberlangsungan pemerintahan Iran masih menjadi ancaman eksistensial bagi keamanan Israel.

Baca Juga: Memo Gedung Putih Bocor, Amerika Tengah Ketar-ketir Soal Stok Senjata Usai Perang Iran

"Bagi kami, ini mengerikan. Saya tidak tahu apa yang dipikirkan Trump," ujar seorang warga berkewarganegaraan ganda Amerika-Israel, seperti dikutip dari The Jerusalem Post, Rabu (16/7).

Warga lainnya juga menyampaikan pandangan serupa.

"Mungkin bagi Amerika ini adalah kesepakatan yang bagus, tetapi tidak bagi Israel. Jika rezim itu masih ada, Israel tetap dalam bahaya karena rezim tersebut ingin melenyapkan Israel," katanya.

Kekecewaan itu sekaligus menunjukkan adanya jurang kepentingan yang semakin lebar antara Washington dan Tel Aviv terkait cara menghadapi Iran.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan bahwa memorandum kesepahaman dengan Iran telah rampung dan diharapkan dapat mengakhiri konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.

Kesepakatan itu juga mencakup penghentian operasi militer serta pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

Namun, di tengah optimisme perdamaian tersebut, situasi di kawasan masih jauh dari benar-benar tenang. Serangan pesawat nirawak Israel di Lebanon selatan dilaporkan menewaskan sedikitnya empat orang.

Sebagai respons, Markas Pusat Khatam al-Anbiya, yang merupakan komando gabungan tertinggi militer Iran, memperingatkan Israel agar menghentikan operasi militernya di Lebanon. Iran menegaskan angkatan bersenjatanya akan memberikan respons keras apabila serangan Israel terus berlanjut.

Peringatan itu muncul di saat Trump terus mendesak Israel menghentikan perang di Lebanon agar tidak mengganggu implementasi perdamaian dengan Iran.

Di sisi lain, militer Israel mengaku berhasil mencegat roket yang diluncurkan kelompok Hezbollah ke arah pasukannya di Lebanon selatan. Pasukan Pertahanan Israel (IDF) juga mengklaim telah menghancurkan peluncur roket yang digunakan dalam serangan tersebut.

Sementara itu, kelompok Hezbollah disebut meyakini Iran tidak akan menandatangani perjanjian nuklir final dengan Washington selama Israel masih mempertahankan kehadiran militernya di Lebanon.

Laporan Reuters yang mengutip seorang diplomat menyebutkan keberadaan pasukan Israel di Lebanon dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap memorandum kesepahaman antara Amerika Serikat dan Iran.

Kondisi tersebut membuat perdamaian yang baru diumumkan itu masih menghadapi ujian besar di lapangan.

Baca Juga: 'Kami Tak Ingin Mengambilnya,' Ini Rencana Amerika Terhadap Bahan Nuklir Iran Usai Damai

Bagi sebagian besar warga Israel, kesepakatan Trump dengan Iran belum memberikan rasa aman. Sebaliknya, mereka melihatnya sebagai kompromi yang justru membiarkan ancaman dari Teheran tetap hidup dan berpotensi menjadi sumber ketegangan baru di kawasan Timur Tengah.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar