Kini Semua Serba AI, Ini Lima Kompetensi Wajib Dimiliki Generasi Muda dari PERURI
Kredit Foto: Istimewa
Perkembangan teknologi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) dinilai telah mengubah cara organisasi bekerja, mengambil keputusan, hingga mengelola informasi.
Namun, di tengah percepatan adopsi teknologi tersebut, penguasaan AI saja dianggap belum cukup untuk menjawab kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.
Direktur Digital Business PERURI, Farah Fitria Rahmayati, mengatakan kemampuan manusia tetap menjadi faktor utama dalam memanfaatkan teknologi secara optimal.
Pandangan tersebut disampaikan Farah dalam ajang BRAVO 500 Summit 2026 yang diselenggarakan oleh XLSMART for Business di Jakarta, Kamis (11/6). Forum internasional tersebut dihadiri lebih dari 1.500 pimpinan perusahaan, regulator, institusi pendidikan, dan pelaku industri untuk membahas percepatan transformasi digital nasional.
Dalam sesi bertajuk “AI and Data Integration for Education: Solusi Untuk Korporasi, Solusi untuk Negeri”, Farah menjelaskan bahwa AI kini telah menjadi bagian penting dalam berbagai proses bisnis modern, mulai dari analisis data hingga pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat.
Meski demikian, menurutnya, teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran manusia dalam menentukan langkah yang tepat untuk menyelesaikan persoalan nyata.
“AI mampu membantu mempercepat proses analisis dan memberikan berbagai rekomendasi berbasis data. Namun pada akhirnya manusia tetap menjadi pihak yang menentukan bagaimana informasi tersebut digunakan untuk menyelesaikan permasalahan nyata. Karena itu, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting di era AI,” ujar Farah.
Ia menilai kebutuhan industri saat ini telah mengalami perubahan signifikan. Jika sebelumnya dunia kerja lebih menekankan penguasaan teori dan keterampilan teknis, kini perusahaan membutuhkan talenta yang mampu menggabungkan pemanfaatan teknologi dengan kemampuan analitis dan penyelesaian masalah.
Baca Juga: Ekonomi Digital RI Diproyeksi Tembus Rp6.408 Triliun pada 2030, Meutya Tak Mau Bocor ke Luar
PERURI mengidentifikasi lima kompetensi utama yang perlu dimiliki generasi muda untuk menghadapi tantangan era digital.
Pertama, data literacy.
Kedua, AI literacy.
Ketiga, digital product mindset.
Keempat, kompetensi di bidang security and governance.
Terakhir, critical thinking and problem solving.
Farah menegaskan pengembangan lima kompetensi tersebut tidak dapat dilakukan oleh dunia industri semata. Menurutnya, diperlukan kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, institusi pendidikan, dan sektor swasta untuk membangun ekosistem pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: