Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,06% ke level 6.154,92 pada perdagangan Rabu (18/6/2026), di tengah sikap hati-hati investor yang menunggu hasil Global Market Accessibility Review dari MSCI yang akan diumumkan pada pekan ini.
Data perdagangan menunjukkan IHSG bergerak di rentang 6.073,72 hingga 6.197,17 sepanjang sesi perdagangan. Tekanan jual mendominasi pasar dengan 441 saham turun, sementara hanya 237 saham menguat dan 281 saham stagnan.
Nilai transaksi tercatat mencapai Rp10,06 triliun dengan volume perdagangan 13,59 miliar saham dan frekuensi transaksi 1,05 juta kali. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia berada di level Rp10.705 triliun.
Tekanan IHSG pada perdagangan hari ini juga tercermin dari pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 1,59% menjadi Rp6.175 per saham. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) melemah 3,25% ke Rp2.980 per saham, sedangkan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) terkoreksi 2,23% ke Rp4.390 per saham.
Di sisi lain, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) menjadi salah satu penopang pasar setelah menguat 2,67% ke level Rp3.840 per saham.
Pelaku pasar saat ini menanti dua agenda penting MSCI yang berpotensi memengaruhi persepsi investor global terhadap pasar modal Indonesia. MSCI dijadwalkan mengumumkan Global Market Accessibility Review pada 18 Juni 2026 waktu Eropa atau sekitar 19 Juni 2026 dini hari WIB, serta Annual Market Classification Review pada 23 Juni 2026 waktu Eropa atau 24 Juni 2026 waktu Indonesia.
Baca Juga: IHSG Dibuka Melemah Jelang Pengumuman RDG BI, Mayoritas Saham Bergerak di Zona Merah
Baca Juga: IHSG Gagal Pertahankan Penguatan, Ditarik Turun Saham-Saham Jumbo
Dua isu utama yang menjadi perhatian investor adalah kemungkinan pencabutan pembekuan (freeze) dan status klasifikasi pasar Indonesia.
Untuk isu pertama, pasar menunggu apakah MSCI akan mencabut pembekuan terhadap penambahan konstituen baru ke dalam indeks, migrasi naik antarindeks, termasuk peningkatan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares(NOS). Kebijakan pembekuan tersebut selama ini menjadi salah satu sorotan investor asing terkait aksesibilitas pasar Indonesia.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: