Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

'Tak Penuhi Satu Pun Tujuan Perang,' Publik Amerika Kritik Pedas Kesepakatan Trump dengan Iran

'Tak Penuhi Satu Pun Tujuan Perang,' Publik Amerika Kritik Pedas Kesepakatan Trump dengan Iran Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjadi sasaran kritik tajam dari sejumlah media besar di negaranya sendiri setelah menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.

Kesepakatan itu justru memicu perdebatan luas di AS. Tidak hanya dari kalangan penentang perang, sejumlah pendukung kebijakan keras terhadap Iran juga menilai Trump memberikan terlalu banyak konsesi kepada Teheran tanpa memperoleh hasil strategis yang sepadan.

Baca Juga: 'Saya Merasa Sedih,' Presiden Amerika Berikan Dukungannya ke Sekutu Iran Gegara Terus Dibom Israel

Jaringan Televisi AS, MS NOW menilai pemerintahan Trump telah menyetujui perpanjangan gencatan senjata yang gagal memenuhi tujuan utama perang.

"Gedung Putih menyetujui perpanjangan gencatan senjata ini yang tidak memenuhi satu pun tujuan pra-perangnya, sementara memberikan konsesi keuangan yang sangat besar kepada Teheran," tulis media tersebut, dikutip Jumat (19/6).

MS NOW bahkan menuding pemerintahan Trump tengah berupaya membela kesepakatan yang dianggap merugikan.

"Sederhananya, Trump dipermainkan oleh Iran, dan tidak ada yang percaya pada upaya pembelaannya," lanjut laporan tersebut.

Kritik serupa juga datang dari Media Bisnis Terkemuka AS, The Wall Street Journal. Mereka menyebut kesepakatan dengan Iran sebagai salah satu taruhan kebijakan luar negeri terbesar Trump pada masa jabatan keduanya.

Media itu memperingatkan bahwa Trump berpotensi menghadapi perlawanan politik dari kelompok pendukung kebijakan keras terhadap Iran yang menilai presiden telah memberikan lebih banyak konsesi dibandingkan keuntungan yang diperoleh AS.

Sementara Fox News, yang selama ini dikenal cukup bersahabat dengan Trump, juga menyoroti kritik terhadap isi perjanjian tersebut. Ia mengutip para pengkritik yang menilai perjanjian itu memberikan "manfaat finansial yang sangat besar" kepada Iran tanpa mewajibkan penghentian program nuklir Teheran.

"Usulan perjanjian Iran oleh Presiden Donald Trump menuai kritik tajam dari beberapa pendukung terkuatnya, yang berpendapat bahwa kesepakatan itu memberi penghargaan kepada Teheran sebelum mereka setuju untuk sepenuhnya menghapuskan program nuklirnya," tulis Fox.

Berdasarkan rincian yang beredar, kesepakatan tersebut mencakup fasilitasi dana rekonstruksi Iran senilai US$300 miliar yang didukung negara-negara kawasan.

Selain itu, AS juga disebut akan memberikan sejumlah pelonggaran ekonomi kepada Iran sebagai bagian dari kerangka perdamaian yang lebih luas.

Kritik semakin menguat karena memorandum tersebut belum mengharuskan Iran menghentikan atau membongkar program nuklirnya secara menyeluruh. Sebaliknya, isu pengayaan uranium dan masa depan program nuklir Iran justru akan dibahas lebih lanjut dalam periode negosiasi selama 60 hari.

Bagi para pengkritik Trump, kondisi tersebut menunjukkan bahwa tujuan utama perang, yakni menekan kemampuan nuklir Iran, belum benar-benar tercapai.

Baca Juga: Amerika Tak Akan Ganggu, Iran dan Oman Bebas Terapkan Mekanisme Pelayaran Baru di Selat Hormuz

Gelombang kritik dari media arus utama AS ini menjadi tantangan politik baru bagi Trump. Di tengah klaim Gedung Putih bahwa kesepakatan tersebut akan menciptakan stabilitas kawasan dan mencegah konflik berkepanjangan, sebagian besar kritik justru menilai Washington telah memberikan ruang bagi Iran untuk memperoleh manfaat ekonomi besar tanpa memberikan konsesi strategis yang setara kepada Amerika Serikat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Editor: Aldi Ginastiar

Tag Terkait: